Sunday, September 15, 2013

Critique of Pure Inaction

Tidak ada institusi yang benar-benar utopis, tidak juga institusi di tempat saya kuliah (STAN) maupun di tempat saya bekerja (Kemenkeu). Jika Anda tidak benar-benar mengalami masuk di dalamnya, tentu Anda akan mengamini adagium klise nan menyedihkan semacam "anak STAN idaman mertua" dan sebagainya dan sebagainya. Beruntung, ada orang-orang di dalamnya yang berani mengungkapkan pandangan dissenting mengenai realita institusi ini, yang tidak melulu indah di kanan kirinya. Simak tulisan Elan Sanurihim Ayatuna, yang membuka mata tentang kuliah di STAN yang tidak "bertabur bunga" seperti yang orang kebanyakan kira. Asimetri posisi tawar seperti ini adalah harga yang mesti dibayar bagi mereka yang memutuskan untuk berkuliah di sini, bahkan sampai setelah lulus dan bekerja sebagai pegawai negeri. Tulisan Farchan Noor Rachman ini menyingkapkan susahnya mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, sementara Gita Wiryawan berusaha mencelikkan mata Anda tentang realita penempatan yang harus siap dijalani ketika lulus nanti. Di lain sisi, sama seperti Mas Farchan, El-Bantani menulis tentang sebuah PMK yang membonsai otak-otak cemerlang yang terpaksa gigit jari karena tidak bisa lebih lanjut mengembangkan diri.

Cerita-cerita di atas bukanlah kejadian terisolasi. Sudah banyak cerita, keluh kesah, anekdot, dan tetek bengek lainnya, yang dituliskan di blog, status Facebook, Twitter, maupun yang tidak; baik dari jaman dulu maupun sekarang. Keluh kesah semacam ini tentu tidak bisa dikuantifikasi bak survei untuk menjatuhkan putusan secara empiris bahwa institusi kami adalah institusi yang tidak baik. Tidak. Akan tetapi, Anda bisa lihat, bahwa ada yang salah dalam beberapa hal di tempat ini.

Adalah ironis, di tengah gaung reformasi birokrasi, dan Nilai-nilai Kementerian Keuangan yang selalu didengungkan, masih terdapat ketidakpuasan dari para pemangku kepentingan internalnya. Adalah menyedihkan, jika ada satu-dua peraturan yang dikeluarkan tanpa pernah ada kejelasan mengapa peraturan itu perlu ada. Seorang filsuf besar, Immanuel Kant, pernah menulis tentang bagaimana pemerintah seharusnya membuat kebijakan dalam bukunya yang berjudul "Perpetual Peace": “All actions relating to the right of other men are unjust if their maxim is not consistent with publicity”, semua perbuatan yang terkait dengan hak orang lain adalah tidak adil, jika prinsipnya tidak sesuai dengan publisitas. Publisitas di sini maksudnya adalah transparansi, sebuah penjelasan yang dikomunikasikan kepada mereka yang diatur. Jika boleh mengambil satu contoh, saya sendiri sampai sekarang tidak pernah mengerti kenapa UPKP* dihapuskan. Alasan peraturan ini mengada tidak pernah jelas, sementara implikasinya begitu masif, yaitu meskipun kami yang lulusan D3 ini mengambil kuliah ekstensi S1, ijazah S1 tadi tidak diakui. Kita tidak naik pangkat dan tetap menjadi lulusan D3 di mata pemerintah.

Jika saya boleh mengambil satu contoh lagi, yaitu tentang rekrutmen pegawai. Pada tahun 2011 dan 2012, STAN memutuskan tidak membuka pendaftaran untuk program D3-nya. Yang saya dengar dari mulut ke mulut, alasannya adalah karena terjadi penggembungan di tengah pada formasi pegawai, yang terlalu banyak diisi oleh D3 dan S1. Namun entah mengapa, pengangkatan S1 dari luar STAN tetap berjalan, sementara anak D3 yang hendak mengambil S1 malah terganjal oleh peraturan yang meniadakan UPKP. Hal-hal semacam ini - meskipun bukanlah sebuah hal yang menyangkut rahasia jabatan atau rahasia negara - tentu tidak Anda ketahui jika Anda tidak benar-benar ingin tahu tentang seluk beluk institusi ini. 


Para penulis yang saya sebutkan tadi bukannya tanpa kecaman. Beberapa orang menuduh mereka tidak bersyukur sudah diberi kesempatan untuk sekolah gratis dan jaminan mendapatkan pekerjaan. Yang lain, dengan entengnya menyarankan agar mereka keluar saja dari institusi ini. Kepada ini saya ingin menjawabnya.


Yang pertama, bahwa sikap bersyukur adalah tidak mutually exclusive dengan menyuarakan kritik. Tentu kami semua bersyukur telah diberi kesempatan seperti ini, di saat banyak yang lain tidak lolos melewati ujian saringan masuknya. Akan tetapi, bersikap ignoran dan tak acuh terhadap keadaan yang belum sepenuhnya bagus adalah sebuah kebutaan yang disengaja, dan lagi, tidak konsisten dengan semangat reformasi birokrasi Kementerian Keuangan. Apakah kita akan berkata kepada Sri Mulyani, "Anda itu tidak bersyukur!" ketika beliau hendak memperbaiki institusi kita? Apakah Anda akan menyalahkan orang-orang yang berdemo terhadap pemerintah yang lalim dan melabeli mereka sebagai orang-orang yang tidak bersyukur? Apakah Anda akan mengutuk para whistleblower? Tidak bukan? Kita semua merindukan upaya perbaikan yang terus-menerus di segala bidang - sebuah kesempurnaan - jika boleh menukil poin kelima dari Nilai-nilai Kemenkeu.

Bahkan, dalam tinjauan agama sekalipun, kritik adalah suatu hal yang penting, dan tidak melulu merupakan perwujudan rasa tidak bersyukur. Yesus, misalnya, pernah mengungkapkan kritiknya** kepada pemuka Farisi yang lalim: "Celakalah kamu [...] di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan." Nabi Muhammad sendiri, dalam sebuah hadits*** pernah bersabda: "Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang adil di depan penguasa atau pemimpin yang zhalim." Ungkapan syukur tidak seharusnya direduksi menjadi sebuah ungkapan kemalasan berpikir dan inaksi.

Yang kedua, bagi mereka yang menyarankan untuk keluar saja adalah tidak lebih dari sekedar patung hidup yang masokis. Saya yakin, pada suatu waktu tertentu, mereka tentu saja pernah dikecewakan oleh orang tua, atau negara, atau siapapun/apapun itu. Lantas, saya ingin menantang mereka, apakah mereka mau meninggalkan keluarganya, hanya karena pernah berselisih paham dengan keluarganya? Apakah mereka mau pergi ke luar negeri, di saat tidak ada sambal tersaji di rumah karena harga cabai dan bawang yang melambung tinggi? Pergi meninggalkan sesuatu yang mengecewakan tidak akan pernah membawa perbaikan apa-apa, alih-alih, malah semakin melanggengkan keburukan yang ada padanya. Sama saja kita mengusir orang-orang yang beritikad baik, yang mencoba memberitahu kita bahwa ada sesuatu yang salah yang mungkin tidak tertangkap mata. Solusi macam ini adalah tipikal orang-orang bebal, yang mengira dengan pindah ke bulan atau Mars di mana tidak ada yang bisa mengecewakan kita maka semua akan baik-baik saja. Tentu, ini merupakan sebuah reductio ad absurdum dan juga sebuah sesat logika straw man, tapi, alur berpikir yang dipakai tetap sama (hanya saja saya membawanya ke level yang lebih ekstrem).

Kritik-kritik kepada birokrasi akan terus ada, selama masih ada yang dapat diperbaiki dari padanya. Tidak seharusnya kita memberi disinsentif kepada mereka yang mau meluangkan waktu berpikir demi sebuah perbaikan. Adalah sebuah omong kosong besar, jika kita memuja gelar agent of change yang disematkan kepada kita saat kita masih menjadi mahasiswa baru, namun lantas mencemooh mereka yang masih menghidupi semangat tersebut bahkan ketika mereka sudah lulus dan bekerja. Jika memang polemik, kontroversi, dan gonjang-ganjing adalah sebuah keniscayaan yang mengantar kita pada revolusi, maka demi reformasi birokrasi di institusi tercinta kita ini, biarlah pikiran kita terus teragitasi.



------


Post Scriptum:


* Ujian Penyesuaian Kenaikan Pangkat


** Baca Matius 23: 27-28

*** Dari Abu Said Al Khudri. HR. Abu Daud, Kitab Al Malahim Bab Al Amru wan Nahyu, No. 4344. At Tirmidzi, Kitab al Fitan ‘an Rasulillah Bab Maa Jaa’a Afdhalul Jihad …, No. 2265. Katanya: hadits ini hasan gharib. Ibnu Majah, Kitab Al Fitan Bab Al Amru bil Ma’ruf wan nahyu ‘anil Munkar, No. 4011. Ahmad, No hadits. 10716. Dalam riwayat Ahmad tertulis "kalimatul haq" - perkataan yang benar. Syaikh Al Albani menshahihkannya dalam Misykah Al Mashabih, No. 3705

Thursday, September 5, 2013

Sepatah Dua Patah Kata yang Tidak Terlalu Penting

Sebelumnya, terucap salam kepada semua teman saya yang penempatan di mana pun itu. Di Jakarta. Di Toli-toli. Di Maumere. Di Subulussalam. Di Surabaya. Di Sukoharjo. Di Singkawang, Ketapang, Sampit, dan tempat-tempat lainnya yang saya tidak pernah bayangkan ada di Indonesia, dengan segala kondisinya. Selanjutnya, kepada teman saya Gita Wiryawan yang telah dengan gagah berani menjadi corong lidah bagi mereka yang mendapatkan penempatan yang mengecewakan melalui tulisannya. Juga, kepada teman saya satu lagi Heru Irfanto, yang mengkritisi hidup yang dibesut hanya sebagai "karnaval untuk memamerkan kesedihan", dengan, ya, memamerkan kesepiannya. Bukankah itu kesedihan juga, Heru? Entahlah. Saya tidak berani berasumsi.

Sejujurnya, saya hanya ingin menyimak "perdebatan" ini - jika boleh dibilang begitu - dengan secangkir kopi dan barang sehisap-dua hisap rokok. Saya pikir, hanya berhenti sampai di sini. Sampai akhirnya Gita menulis tulisan tanggapan lagi.

Tidak ada yang salah dengan menulis, Gita. Sama seperti yang kau ungkapkan pada pledoimu sendiri. Entah karena penulisnya gelisah, entah dia sedang pamer mengenai kondisi penempatannya, entah dia sedang mengutuki entah siapa yang bertanggung jawab dalam lotere hidupnya kali ini (Tuhan? Pimpinan institusi ini? Dirinya sendiri?). Jika orang berhak mengungkapkan kesedihan dan kegelisahannya, mengapa standar yang sama tidak berlaku bagi orang yang sedang bahagia? Mengapa engkau gelisah atas kebahagiaan orang lain? Tidak, tidak, saya tidak menyalahkanmu. Namun, kau dan aku tahu: kau, aku, dan mereka, adalah sama-sama manusia korban-korban nasib. Sebajingan apapun nasib memutar dadu kita kali ini, setahuku, tidak pernah ada ketidakadilan di dalamnya. Ini hanya... nasib. Kecuali jika memang ada ketidakadilan dalam proses penempatan ini, maka aku akan menemanimu memberontak terhadapnya. (Aku tidak melihat tulisanmu sebagai ungkapan pemberontakan, aku tahu itu. Menurutku, kau tidak pernah benar-benar menuntut keadilan atas semua ini.)

Nasib menempatkan kita pada tempat entah bagus entah tidak secara subyektif bagi mereka yang melihatnya. Aku, di Jakarta, seringkali mengutuk tentang kemacetan dan paru-paruku yang dibunuh polusi sel demi selnya. Aku tidak mau berlagak omniscient dan dengan pongahnya bilang, "Aku tahu apa yang kamu rasa, kawan." Tidak, tidak. Aku tidak tahu rasanya kekurangan air. Aku tidak tahu rasanya harus menempuh kegelapan hutan demi tugas. Aku tidak tahu rasanya mengalami susah sinyal.

Lantas, aku tidak ingin berlagak bagai Mario Teguh dengan menyuruhmu bersyukur. Bersyukurlah jika menurutmu ini lantas disyukuri. Aku jadi teringat sajak Carl Sandburg berjudul "Mucker":

Of the twenty looking on
Ten murmur, "O, it's a hell of a job."
Ten others, "Jesus, I wish I had the job."

Perspektif seperti ini, tentu saja tidak bisa dipaksakan. Namun, lihatlah, ada orang yang puas melakukannya, entah demi terjaminnya masa depan, atau demi negara. Kau bisa melihat betapa bahagia dan sederhananya orang-orang seperti itu. Apa yang dibilang Heru dengan wang-sinawang, tentu saja dengan melihat mereka ini. Orang-orang sederhana yang - terlepas dengan angka pada mata dadu nasib masing-masing - melihat semua ini bak orang menang judi.

Satu lagi, Git, apa yang akan kau lakukan jika kau penempatan Jakarta? Gelisahkah kau dengan mereka yang penempatan di Bangko? Atau kau mau mengarahkan kegelisahanmu ini kepada mereka yang penempatan di homebase; di mana macet, polusi, harga makanan pinggiran jalan, dan hingar bingar kota besar tidak pernah menjadi masalah? Apakah privilese yang engkau punya akan menutup matamu, dan tulisan macam "Als Ik Eens..." tidak pernah dilahirkan? Jika semua ini salah, maka terus gelisahlah. Terus menulislah. Dahulu sekali ada tulisan seperti ini:

I am the young man, full of strength and hope,
Tangled in that ancient endless chain
Of profit, power, gain, of grab the land!
Of grab the gold! Of grab the ways of satisfying need!
Of work the men! Of take the pay!
Of owning everything for one's own greed!

[...] 


Yet I'm the one who dreamt our basic dream
In the Old World while still a serf of kings,
Who dreamt a dream so strong, so brave, so true,
That even yet its mighty daring sings*

Karena orang-orang yang gelisah adalah orang-orang yang masih menghidupi mimpinya.

-----

*Langston Hughes, dalam puisi "Let America Be America Again" (1935).

Monday, July 29, 2013

Kereta

Di luar hanya kegelapan. Awan kumulonimbus menggumpal bagaikan bola kapas raksasa yang terbuat dari filamen-filamen karbon. Di dalam, beratus-ratus tubuh terhuyung-huyung ke samping, ke depan. Bau besi berkarat, muntahan, dan semprotan parfum dari seorang remaja putri tanggung memenuhi udara. Seakan berlomba-lomba untuk menaklukkan hidung bak jajahan.

Bangun, tidur, bangun, dan tidur lagi. Di antara mulut menganga dan kepala terantuk ke jendela, atau ke bahu penumpang sebelah. Melihat hidup dari kereta adalah tidak selalu melihat sepotong senja. Seringkali hanya kegelapan dan tubuh-tubuh yang letih dimakan perjalanan. Juga muntahan.

"Hidup ini tidak melulu tentang kesedihan", katamu tiba-tiba angkat bicara. Apakah mukaku terlihat murung dari tadi? Bukankah sudah biasanya aku seperti ini? Selain itu, lihatlah. Lihatlah ke luar. Lihatlah ke bawah. Masih ada yang menangis, mendapatkan debu hempasan kereta sebagai ganti susu. Masih ada yang merendahkan dirinya - menjadi serendah alas sepatumu - menyapu sampah demi selembaran rupiah yang kau lemparkan kepadanya tanpa perlu merasa kehilangan. Padahal, bagi dia, mungkin saja itu adalah nyawa hari ini. Katakanlah kepadaku, adakah tempat di mana tidak ada kesedihan? Bahkan, di surga pun ada kesedihan, jika surga memang ada. Tidakkah kau merasa bosan jika harus melakukan hal yang sama, memuji Tuhan, misalnya, dalam jangka waktu yang tak terhingga lamanya? Hidup itu dapat ditanggung, karena dia harus berhenti. Hiduplah selamanya maka kamu akan berharap mati. Karena dunia ini akan selalu dipenuhi kesedihan.

Kesedihan akan selalu menjadi bagian dalam perjalanan, tak terelakkan perjalanan kita ini. Tak ingatkah kau di peron stasiun tadi? Sepasang kekasih berpelukan. Begitu erat. Begitu rekat. Tenggelam bersama dalam batas antara ketidakrelaan dan keikhasan. Kau bisa melihat di mata mereka. Mata yang menerawang jauh ke belakang, kepada kenangan. Merekam jejak yang tak tergenggam tangan. Jemari yang menyusuri lengan, lalu turun saling menggenggam adalah tanda bahwa perpisahan - betapapun singkatnya, betapapun dekatnya - selalu tak tertahankan.

Kereta mengerem mendadak, terguncang. Beberapa berteriak dan menyebut nama Tuhan. Kau heran mengapa aku begitu tenang. Aku tidak takut akan kematian, kataku. Aku tidak punya apa-apa. Segala realitas yang kupunya hanya detik ini, saat ini. Pernahkah kamu berpikir, bahwa masa lalu dan masa depan tidaklah nyata? Menurutku, mereka hanya ada dalam ingatan dan bayangan. Rumah yang kau punya, tabungan yang kau kumpulkan, suami dan anakmu, hanya ada selama kau mengetahui dia ada. Saat kau ada di sini, denganku, saat ini, apa kau tahu jika rumahmu ludes terbakar? Atau tabunganmu lenyap disedot oleh peretas entah di mana di luar negeri? Atau suamimu pergi ke pelukan wanita lain dan membawa serta anakmu?

Kau menghardikku. Oke, oke. Contohku terlalu kasar. Aku minta maaf.

Bahkan, saat aku masuk ke kamar mandi tadi, kau tidak pernah tahu apakah aku akan masih tetap ada dan keluar dari situ untuk duduk di sini bersamamu, bukan? Ketika yang kupunya hanyalah detik ini, biarlah ketika pada suatu detik yang menentukan nanti, semuanya tentangku lenyap dibawa pergi.

Kita seringkali begini, duduk berhadapan berbagi kesunyian, diselai pertanyaan-pertanyaan tentang kehidupan yang meluncur dari mulutmu. Kadang aku berpikir kalau kau sebenarnya sedang bercermin. Aku yang menjadi cermin, kau yang sedang berusaha menemukan pantulanmu lewat jawaban yang kulontarkan.

"Itulah alasanmu mengapa kau merusak dirimu sendiri? Alasan kau berhenti hidup, karena kau merasa ia hanya dipenuhi oleh kesedihan? Atau kau menganggap semuanya ini tidak nyata, karena kau takut merasa sedih lagi?"

Ah, aku hanya mencari apa yang aku cintai, lalu membiarkan dia membunuhku. Yang aku cintai adalah saat ini. Termasuk hal-hal yang banyak orang hindari. Hal-hal yang merusak jiwa dan tubuh.

"Lalu, mengapa tidak saja kau cari apa yang kau cintai, lalu membiarkan dia memberikanmu hidup? Memberikanmu harapan? Apakah kau tidak ingin punya keluarga, misalnya?"

Seorang anak kecil menangis di gendongan ayahnya. Telunjuknya mengarah ke luar gerbong. Aku melihat kedua matanya yang sembab. Aku merasa kami berbagi jenis kesedihan yang sama, yaitu kehilangan harapan. Harapan adalah hasrat akan utopia yang paling dahsyat, paling dasar, paling primordial. Bagi anak itu, utopianya adalah naik transportasi yang lebih nyaman bersama ayah ibunya, mungkin. Bagiku sendiri... Ah, aku tidak tahu. Yang kuharap sangat sederhana, aku hanya berharap agar tidak merasa hampa. Akan tetapi, kehampaan itu sendiri selalu sulit untuk dijelaskan.

Di luar, hujan salah musim turun mengguyur dengan derasnya. Tetes-tetes air yang jatuh ke jalan tersinari lampu kendaraan yang sedang menunggu kereta lewat perlintasan, terlihat berlompatan seperti jutaan ikan terbang bersisik emas dari dalam sini. Rumah-rumah di sejauh mata memandang cahayanya temaram. Bak orang yang sedang meringkuk kedinginan di bawah selimutnya.

Kereta belum berhenti. Kau menawarkan roti namun aku menolaknya. Aku hanya ingin merokok sebentar. Aku beranjak, meninggalkanmu menuju sambungan gerbong. Kau terlihat muram. Mengapa kau terlihat muram? Bukankah sudah kubilang aku ingin mati pelan-pelan?

Di sambungan gerbong sudah ada lima orang. Berbagi rokok. Berbagi korek. Berbagi asap pekat. Inilah kumpulan orang paling absurd. Orang-orang yang membalas hadiah kehidupan dengan perusakan badan. Anehnya, kami bahagia. Kami gila.

"Bau rokok", keluhmu. Ah, tidak terlalu bau, kok. Kamu tidur saja. Perjalanan masih jauh.

Pergantian gelap malam dan terang cahaya lampu rumah, bermain-main di retina mata bagaikan montase yang stakato. Aku rasa, inilah yang membuat beberapa orang suka naik kereta. Naik kereta bagaikan menjelma menjadi sungai, yang mengalir lancar, lurus, tidak perlu sedikit-sedikit terhenti oleh kemacetan dan lampu merah. Membuat lansekap pemandangan di luar sana tersaji secara utuh seluruh, seperti film. Film yang serta-merta sunyi, indah, dan surreal. Orang-orang lantas mengambil fragmen film ini, lalu membumbuinya dengan angan dan fantasi, membentuknya menjadi pelbagai prosa dan puisi dengan "kereta" disebut di dalamnya. Apalagi bagi orang-orang macam aku ini (yang kata orang terlalu melankolis), tidak kurang-kurang apa yang sedang kutuliskan di otakku saat berada di dalam kereta. Dan bagiku tidak ada yang lebih menyedihkan daripada kereta yang melaju menembus hujan.

Kita tiba di stasiun terakhir. Rupanya hujan memutuskan untuk ikut bersama kita.

"Jangan lupa tasmu", ujarmu mengingatkan. Oh, aku selalu membawanya.

"Kamu mau naik taksi bareng aku?"

Tidak, tidak usah. Salam saja bagi suami dan anakmu. Terima kasih ya, kamu sudah mau menemani.

"Baiklah. Dadah! Hati-hati di jalan!"

Kembalilah. Pulanglah. Aku akan baik-baik saja. Pulanglah. Kembalilah.

Kau melambaikan tangan lalu berlari kecil, sedangkan tas yang kau bawa kau jadikan penutup kepala. Lama-lama punggungmu hilang ditelan oleh taksi. Aku berjalan menyusuri stasiun, menyalakan rokok, tak mengacuhkan berbagai tawaran kendaraan pulang. Aku hanya ingin berjalan. Aku tak peduli hujan. Aku hanya ingin berjalan perlahan-lahan, untuk sekali lagi menikmati kegelapan.


Yogyakarta - Jakarta, KA Progo, 21 Juli 2013


Tuesday, June 11, 2013

Wanderlust

Tanggal 10 Juni kemarin, saya genap berusia 22 tahun. Tidak ada yang spesial, sebenarnya, dari umur ke-22 saya ini. Di saat John Forbes Nash sudah menyelesaikan tesis tentang game theory (yang lantas memberinya hadiah Nobel ekonomi) pada usia ini, saya masih tetap bukan siapa-siapa.

Beruntung bagi saya, perjalanan menuju tahun ke-22 saya dipenuhi oleh kebaikan-kebaikan — betapapun kecilnya, baik oleh orang-orang yang mengenal dan menyayangi saya, maupun dari orang-orang yang tidak mengenal saya. Pagi hari tanggal 9, mama saya sudah mengucapkan selamat ulang tahun. Sepertinya, mama saya merasa insekyur kalau-kalau ada yang mendahului dia mengucapkan selamat pada anaknya ini. Saya menelponnya. Ada rindu ingin pulang yang membuncah di dada. Ah, mama, saya teramat merindukanmu. Saya ingin pulang.

Lalu, saya menghabiskan sisa hari itu untuk mengasingkan diri di Blok M. Sendiri. Berniat untuk berbagi sesuatu pada orang-orang, atau sekedar menyediakan mulut dan telinga mendengarkan keluh-kesah mereka yang dihimpit kerasnya ibu kota. Oh, dan juga untuk membeli beberapa buku sebagai hadiah untuk diri saya sendiri.

Dan perjalanan ini sendiri, ternyata memberi saya hadiah yang tak pernah terpikirkan. Berjalan keluar kompleks tempat kos-kosan saya, saya sudah disambut dengan sapaan dari ibu penjual sayur, ibu penjual ketoprak, bapak penjual soto, bapak penjual bubur ayam di depan masjid At-Taqwa, juga Pak Anto, tukang ojek yang pernah saya pinjam sepatu pantofelnya. Bahkan saya diberi wejangan klise oleh bapak penjual soto dan seorang ibu menjelang paruh baya yang juga memesan soto di situ agar tidak menjadi Gayus. Apakah saya mengenal mereka secara pribadi? Tidak. Saya hanya pernah dalam suatu waktu bercakap-cakap dengan masing-masing dari mereka. Hadiah pertama pagi itu adalah pelajaran tentang ketulusan dan persahabatan yang dapat dimulai dari hal yang begitu sederhana. Dari mereka saya belajar untuk menjadi rendah hati, dan sungguh, saya lebih suka berteman dengan mereka dibandingkan dengan orang yang berstatus sosial lebih tinggi, namun pongah dan egois dalam berteman.

Lalu, datanglah seorang ayah yang menggandeng anaknya yang Down syndrome jalan-jalan mengitari kompleks. "Wah, sudah muter ke sini, ke sana, lima kali, Mas", ujarnya dalam lelah yang kalah oleh perasaan bahagia. Sang anak memang tampak bersemangat sekali menarik tangan ayahnya untuk berjalan-jalan lagi. Saya terharu. Saya teringat ayah saya. Saya membayangkan ia adalah ayah saya, dan saya — dalam kenakalan masa remaja saya — adalah anak itu. Mungkin kira-kira seperti itu, bahwa cinta akan selalu mengalahkan perasaan lelah dan gemas saat mengurus anak. Bahwa cinta seorang ayah akan selalu menutupi kesalahan dan ketidaksempurnaan sang anak. Dalam hati, saya ingin seperti dia. Seperti ayah saya.

Setibanya di Blok M, saya sudah langsung mendapat pelajaran-pelajaran baru. Saya belajar bahwa cinta tak perlu hancur dimakan usia pada sepasang kakek-nenek yang berjalan bergandengan tangan meniti trotoar sambil bercanda. Saya belajar bahwa pekerjaan tak perlu menghalangi kesenangan. Sungguh, anak-anak yang tiap hari bekerja dari satu bis ke bis yang lain ini adalah teman makan dan minum kopi yang menyenangkan. Pada seorang penjaga kios buku bekas, saya belajar bahwa betapa remehnya nampaknya pekerjaan yang dilakukan, Anda harus melakukannya dengan sepenuh hati. Nampaknya klise, namun, meskipun — maaf — menjaga kios buku bekas merupakan pekerjaan yang remeh, ia melakukannya dengan sangat-sangat baik. Dia hapal letak buku yang tersembunyi. Dia tahu kapan-kapan saja buku ini dipesan, dan kapan seseorang membelinya (waktu itu saya bertanya tentang apakah dia punya buku yang saya cari, yang ternyata sudah dibeli orang). Kami pun mengobrol banyak juga tentang manga. Menyenangkan sekali.

Saya menyempatkan diri juga untuk duduk di sebuah kafe kecil yang dimiliki seorang ibu, kira-kira berumur tiga puluhan akhir atau empat puluhan awal. Saya menahan diri untuk memanggilnya tante, entah kenapa. Ibu ini sangat ramah. Begitu ramah, sehingga setiap orang yang lewat di situ disapanya atau menyapanya. Dia bertanya tentang saya, tentang pekerjaan saya, bahkan tentang apakah saya punya pacar. Dia tidak percaya kalau saya tidak punya pacar. "Ah, pasti punya banyak, jadinya bingung" ujarnya. Menohok sekali. Saya hanya bisa terkekeh. Dia lalu bercerita tentang anak lelakinya yang bersekolah di Surabaya. "Dia manja, Mas sebenernya. Begini. Begitu." Ada perasaan gundah ketika dia bercerita bahwa anaknya sebenarnya tidak betah di Surabaya dan ingin balik ke Jakarta. Saya merenung, apakah seperti ini yang dirasakan mama saya ketika saya harus berpisah dan hijrah ke Jakarta?

Dia lalu melanjutkan ceritanya, tentang reuniannya dengan teman-teman se-geng-nya waktu SMA, tentang harga flashdisk di sini yang tidak semurah di Surabaya, tentang Malang yang sudah tidak sedingin dulu. Sambil memutar lagu-lagu evergreen milik Brian McKnight, Eric Carmen, dan Rick Price. Dalam hati saya membatin, boleh juga selera musiknya.

Pukul 12 malam, saat tanggal sudah berganti ke tanggal 10, jika tahun lalu teman-teman terbaik saya di Karanganyar, Ndaru, Pipit, Derry, Hangga, Ucup, dan Ocho yang memberikan kejutan berupa kue ulang tahun, tahun ini teman-teman terbaik saya di sini, Tifa, Nanang, dan Tasa yang memberikan kejutan. Sama seperti tahun lalu, saya menatap tempias cahaya lilin yang dimainkan angin sambil menahan haru. Beruntung, kekonyolan trio Kwek-kwek ini yang tidak tahu alamat kosan saya, membuat saya terpingkal-pingkal. Saya masih tertawa jika mengingat kalimat di telepon "Ndre, kosanmu di mana? Kita mau ngasih surprise!" Guys, thank you so much for this.

Saya berterima kasih juga kepada teman-teman yang lain. Kepada semua telepon, SMS, mention di Twitter, dan ucapan di Facebook yang masuk. Kepada Gita yang katanya mau menulis, namun lebih memilih untuk fokus menulis tentang gebetannya yang berselisih dua hari tanggal lahirnya dengan saya. Juga kepada Gilang, yang entah kenapa memberi saya kado terabsurd yang pernah saya dapat, lotion antinyamuk. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih.

Terlebih lagi, kepada kamu, The Little Red-Haired Girl yang rambutnya hitam dan berombak di ujung karena usaha mengkritingkan rambut yang gagal, terima kasih. Yours are the simplest, but yours are the best. Setelah ucapan dari mama, tentu saja. Meskipun aku pernah bilang, bahwa "wishes are only for children", kamu tahu, apa yang terucap sebagai doa, saat aku meniup lilinku yang kedua puluh dua.

Wednesday, June 5, 2013

Mumbling #4

Here we are, at this sequestered seashore. At the millenia-old intersection of the land and the sea. The place where the incessant waves touch our wounds and drag them away, like how they treat the sandcastle we've built earlier. But this soundless twilight in this place that refuse to talk, soon, very soon, immerses me in yet another beautiful pain - immerses me in you.

"Let's wander somewhere. Let the stars decide where we should go." And we saunter, drifting away separately but connected in meaningful yet incomprehensible way, to the hill north of the seashore where we stood before.

There are sands on the beach and trees on the hill as far as I lay my eyes, embraced by the clement wind of an afternoon that is almost gone. Here I feel like a minuscule nobody, lost in paradise. Such a perfection, as if a pair of divine hands is secretly working behind these scenic masterpieces; the hill, the beach, the sea... and you.

We walk, strolling up and higher this hill, crushing fallen leaves of the late dry season with our feet. A salty coastal wind blows your hair madly, but you seem to be not bothered. "I feel this wind deliver comforting hug, instead of a bone-shattering chill", you said with that soft lips of yours. Meanwhile, up in the sunless sky, the stars start flickering from their semi-slumber. The moon is already reigning majestically. Such a serene and tranquilizing view to the heart.

"I'm always gonna miss the stillness of this place", said you, in a gentle, solemn voice. You brush your hairs aside, looking down the ground. I see you are visibly anxious. "You can come here again anytime you want. I will be here". I try to regain my composure, subduing the flutter and anguish in my heart. Actually, who can stand the thought of parting and departing?

I muster all my courage to hold your hand with my sweaty palms. You chuckle, perhaps thinking of how silly I am like a junior high school kid being first time in love. "Why?" you ask. "Why do you love me?"

"I love you, as certain dark things are to be loved, in secret*. I do not love you out of boredom, or loneliness, or a worldly lust, or ephemeral enchantment. I love you, because the desire to love you surpasses any happiness."

You smile, and I think you could never be more beautiful than you are tonight. Your smile relinquishes me of my strength. In my trying to look sapient before your eyes, I befallen, succumbing to weakness in my heart.

Not a word you say afterward. This beach is still sombre. The hill is still resolute. An ethereal nuance engulfs us in the most comfortable silence ever. Little by little, the beach, the sea, and the hill are chiselling memories to our heart. Memories that are carved forever, and soon taken away to our respective exiles.

This is a place that throbs with so much beauty and solace. Where pain and love stand in close proximities. Where hope and desperation drown us in a new grief. Continuing. Insisting. We try our best to be stoic, but we begin to weep silently, as we know that no matter how unbearable this pain is, we will always try to fix each other.

"I know nothing about my heart. About the future." You sigh.

"I know. My brain defies sense-making, too. What a feeble kind of human we are. "

I try assiduously to cover my sorrow with equanimity. The ocean is gleaming from the silvery moon reflection. Oh how I wish to be a fish, swimming free to an endless sea. Over the edge of the world. Over again.

Then, from the west of the hill, there comes a great flock of a hundred million firefiles. Without realizing, we're holding hands even tighter. And your lips and mine are dancing in unity.

* Pablo Neruda, Sonnet XVII

Wednesday, May 1, 2013

Selamat Hari Buruh

Saya tidak punya waktu banyak untuk menulis sesuatu yang komprehensif saat hari buruh kali ini. maka ijinkan saya menulisnya beberapa buah pikiran saja.

Pertama, apakah demo menuntut kenaikan upah selalu inheren dengan semakin sulitnya keadaan bagi pengusaha juga semakin suramnya iklim investasi? Simpelnya, mungkin saja, namun bagi pengusaha kelas kecil dan menengah, tentu saja. Konglomerat semacam Chairul Tandjung atau Harry Tanoe (yang bisa mengundang David Foster untuk ulang tahun anaknya) saya rasa tidak akan jatuh miskin karena kenaikan upah pekerjanya. (Bagaimana win-win solution untuk pengusaha kecil/kelas menengah? Pemenuhan kewajiban menaikkan upah buruh sedikit-sedikit secara bertahap, misalnya dengan pembuktian laporan keuangan untuk menunjukkan omsetnya).

Selanjutnya, mari kita bandingkan pula Foreign Direct Investment/investasi dari luar negeri yang kita terima dengan Malaysia, yang seringkali diagung-agungkan oleh beberapa dari kita yang punya permasalahan inferiority complex. FDI kita tahun 2012 adalah sebesar US$ 23 milyar, naik 23% dari tahun kemarin*). Sementara Malaysia hanya menerima FDI sebesar 34,8 milyar ringgit pada 2012, atau setara dengan US$ 11,38 milyar dengan kursi 31 Desember 2012. Pun lagi, rencana gabungan pengusaha Jepang Kaikeren untuk merelokasikan beberapa pabriknya di Indonesia, Apple yang berencana untuk berinvestasi sebesar 3 milyar dolar di Indonesia, juga Toyota yang mengucurkan dana 13 triliun rupiah untuk berinvestasi ke sini. Belum lagi British Petroleum, Foxconn, Honam, Unilever, dan lain-lain. Jika ada yang bilang bahwa kenaikan upah buruh hanya akan membuat perusahaan asing enggan berinvestasi, katakan saja mereka berbohong.

Dan kalaupun kita kalah "kompetitif" dari segi upah buruh dengan negara-negara yang tidak memperhatikan kesejahteraan dan hak-hak pekerja macam China atau Vietnam atau Kamboja, saya tidak mengerti kenapa negara harus memprioritaskan ke-"kompetitif"-an kita ini dibandingkan kesejahteraan rakyatnya.

Kedua, lalu bagaimana dengan meritokrasi (gampangnya, yang kerja keras/paling pintar yang berhak bertahan dan mendapat upah besar) yang menjadi kredo dari sistem pasar bebas jika kita menaikkan upah buruh? Pertama-tama, sistem meritokrasi tidak serta merta membawa efisiensi dan kemakmuran. Dari mulanya, tidak pernah ada equality of opportunity yang menjamin terciptanya sistem merit yang adil. Tidak semua orang mendapatkan akses ke pendidikan, penghidupan, dan kesehatan yang sama dengan kaum privileged seperti kita. Kesenjangan tercipta karena power imbalance antara kelas pekerja dan kaum elit sudah berlangsung begitu lama (mereka yang privileged mempertahankan hegemoni dengan cara mentransfer kekayaan atau kedudukan bagi keturunan/keluarga/teman mereka), sehingga cara untuk memutus dominasi ekonomi tersebut hanyalah dengan cara pajak, atau membiarkan buruh menuntut penghidupan yang layak. Kaum elit sudah menang berulang kali, dan kini saatnya mereka mendengarkan kaum pekerja (dan kenapa kenaikan upah buruh selalu diikuti dengan pemecatan, dan bukan penurunan gaji CEO dan manager?). Bagaimana kita bisa dengan santainya komplain terhadap kaum buruh, jika kondisi seperti jam kerja, upah lembur, jaminan sosial, serta pelarangan tenaga kerja anak-anak serta diskriminasi di tempat kerja kesemuanya adalah hasil revolusi mereka, dan kita hanya tinggal menikmati? Kedua, dengan naiknya upah buruh, ada consumer spending yang muncul dari mereka untuk menguatkan pasar domestik**), yang nantinya mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketiga, dengan naiknya kesejahteraan mereka, ada kemampuan dari mereka untuk berinvestasi kepada masa depan, misalnya, pada pendidikan. Dengan terjaminnya pendidikan bagi anak-anak mereka, akan berpengaruh secara agregat nasional kepada peningkatan human development index serta ketersediaan tenaga kerja yang lebih berpendidikan. Setidaknya, secara teori seperti itu.

Selamat hari buruh***)!

P.S.:

*) Saya tidak sempat mengikutsertakan tautan-tautan mengenai data dan fakta-fakta yang terkait dengan tulisan ini, karena saya sedang lembur hari ini.

**) Selain itu, sebagai cushion bagi inflasi, di mana ekses dari inflasi itu sendiri pada akhirnya mendisipasi ke pengusaha dan penjual barang dan jasa sebagai tambahan income bagi mereka juga, dan akhirnya menggerakkan ekonomi domestik secara keseluruhan.

***) Bukan bagi buruh yang menolak membayar iuran jaminan kesehatan sebesar Rp40.000,00. Demi tuhan, kalian ini seharusnya menjadi sosialis!

Thursday, March 14, 2013

Firasat

Di depan tiang gantungan ini aku terkesiap. Jadi, seperti inilah aku akan berakhir? Menjemput maut perlahan-lahan diiringi cemoohan di kiri, kanan, dan depan? Mati terhina seperti anjing rabies di pasar itu yang mati dilempari batu oleh anak-anak dengan diiringi sorak-sorai dan teriakan? Tidak, tidak bisa. Lantai kayu di sebuah panggung di tengah-tengah kota ini berdecit keras. Aku memberontak. Aku merasa tali yang menjeratku naik dan menjadi semakin kencang. Meremas dan mencekik batang tenggorokanku dari segala arah. Panas sekali rasanya. Tubuhku meronta. Jangan, jangan! Aku orang baik-baik! Aku bukan kriminal. Aku…

***

Sinar matahari bulan Desember mengintip malu-malu dari balik jendela. Selimut, bantal, sprei, semuanya tersusun secara kaotik seperti habis ada pergumulan di kasur ini. Jantungku berdebar-debar seperti habis menenggak kopi lalu disuruh berlari. Bulir-bulir keringat terbentuk di dahi lalu jatuh ke pangkuan, meskipun suhu cuaca begitu dingin semalaman. Ah, mimpi lagi rupanya. Brengsek. Jika Morpheus itu ada, aku akan menggugatnya habis-habisan. Mimpi seperti ini bukan yang pertama kali, malah sudah yang ketiga kalinya. Dan semuanya selalu sama, penghukuman yang berujung pada kematian. Jika Morpheus itu ada, aku akan memaksanya untuk memberikanku mimpi yang indah-indah saja, seperti mimpi bercinta atau mimpi jadi kaya. Namun, Morpheus tidak ada. Sama seperti omong kosong helenik lainnya. Dan aku tetap tak bisa memilih-milih mimpi.

Pagi itu dengan langkah yang masih gontai, aku berangkat ke kantor. Sial, mimpi tadi malam seperti melolosi semua tulangku, hampir-hampir saja aku terjatuh lemas ketika hendak naik kereta bawah tanah.

“Hei, Jay, laporan investigasimu tentang Suriah sudah selesai?” tanya Connor, bosku. Namaku sendiri Jeremiah. Orang-orang sering memanggilku Jerry atau Jay, tapi aku  sendiri lebih suka jika dipanggil Jay. Nama Jerry itu seperti tikus kartun itu saja.

“Belum, Connor. Beri aku waktu satu dua hari.”
“Baiklah. Kau terlihat pucat. Ada apa?”
“Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin karena mimpi buruk kemarin.”
“Mimpi apa kau? Nikah?” kelakar Simon, kolegaku, sambil tertawa.
Goddammit, Simon.”
Semua yang di ruangan tertawa.

Aku bekerja di sebuah lembaga pemerjuang hak asasi manusia bertempat di Washington, selain juga sebagai seorang kontributor lepas di berbagai koran dan sindikasi Amerika Serikat maupun internasional. Aku satu-satunya yang berasal dari Indonesia, bahkan Asia Tenggara di sini. Bekerja seperti ini, berpindah-pindah di beberapa medan tempur paling panas di bumi, membongkar kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah maupun perusahaan-perusahaan kapitalis raksasa yang keji, membuatku berpikir pernikahan adalah hal yang musykil. Meskipun sebenarnya beberapa kolegaku di kantor ini sudah menikah dan berkeluarga. Kasihan anak-anak dan istriku nanti jika harus memikirkan aku yang bermain dadu dengan malaikat maut setiap kali bertugas. Alasan ini yang membuat orang tuaku menyerah dan tidak mengungkit-ungkit lagi tentang kapan aku akan menikah.

Jika dipikir-pikir, pekerjaanku sendiri lebih dekat dengan maut jika dibandingkan dengan mimpiku yang tidak nyata itu. Aku sudah menyicipi betapa mengerikannya jalanan Darfur dan Monrovia, atau rasanya lari di hutan di Ekuador ketika para tentara bayaran yang disewa sebuah perusahaan tambang multinasional mengejar kami. Telingaku sendiri sudah terbiasa mendengar desingan peluru, di Gaza, Fallujah, maupun lapangan Tahrir, dan terakhir di Suriah. Namun mimpi itu, entah kenapa, lebih menggangguku daripada dengungan Predator drone yang pernah kudengar di perbatasan Pakistan dan Afganistan. Mungkin karena ia seakan meramalkan sesuatu yang buruk yang tidak dapat dielakkan. Mungkin karena ia serupa kematian yang berhasil merangsek masuk ke tidurku, yang selama ini kuanggap sebagai tempat yang paling damai dan aman. Aku tidak tahu.

Aku juga tidak tahu apakah mimpi ini sekedar bunga tidur belaka ataukah sebuah pertanda, entahlah. Terakhir kali aku iseng-iseng mencari tahu tentang tafsir mimpi di internet, tidak ada yang memberi jawaban pasti. Pun juga ketika membuka-buka laman neurosains populer, hasilnya nihil. Tidak ada yang dapat menerangkan kepadaku makna mimpi ini.

Mimpi itu selalu dimulai dengan adegan yang sama. Tidak ada epilog yang mengantar cerita. Tahu-tahu, aku, yang ada di dalam mimpi, sudah duduk menunduk menghadap lantai yang beralaskan jerami. Di depanku ada jeruji dari kayu berpola palang sederhana. Nampaknya tebal dan kuat meskipun aku belum pernah menyentuhnya, karena di dalam ketiga mimpiku itu, tangan dan kakiku selalu terbelenggu oleh tali. Aku sendiri tidak bisa melihat dengan jelas keadaan sekitar ruang tahananku itu. Di kanan kiri hanya kelihatan gelap yang mencekat napas. Kedua mataku pun antara terbuka dan terpejam, nampaknya lebam. Mengapa dan siapa yang memukul kedua mataku sampai babak belur tidak pernah terjawab sampai saat ini.

Kemudian, aku mendengar dari arah pintu datang seseorang. Aku tidak dapat melihat seperti apa rupanya, hanya kakinya saja. Suara langkah kaki yang keras dan mantap mengisyaratkan siapapun orang ini, pastilah ia berbadan besar. Ia membuka pintu, lalu menyeretku dengan cara menarik tanganku. Tepat ketika berada di luar kamar sel, aku selalu menghadap ke kiri. Ya, tiga kali mimpi dan tiga kali menghadap ke kiri. Namun, di sebelah kiri dari lorong di depan selku tidak nampak apa-apa. Lagi-lagi hanya kegelapan sejauh pandangan mata.

Lalu, yang kutahu, tiba-tiba saja aku sudah berada di tengah-tengah sebuah alun-alun, di atas sebuah panggung kayu kira-kira dua meter lebih tinggi dari sekitarnya. Semua orang berkumpul seakan-akan sedang ada parade atau pertunjukan. Seperti adegan di mana Yesus waktu disalib di Golgota, di film-film menjelang Paskah yang dulu kutonton sewaktu masih bocah. Aku dapat melihat semua mata sedang memandangku dengan pandangan yang entah jijik entah menghina. Sang algojo lalu menarik kerahku sehingga aku menjadi setengah berdiri. Dari sini, ketiga mimpiku mulai menjadi berbeda-beda.

Di mimpiku yang pertama, leherku ditempatkan di sebuah palang kayu yang ada cekungannya, yang rupanya adalah guillotine, instrumen kematian zaman Pemerintahan Teror di Perancis. Di mimpi yang kedua, sang algojo yang tidak pernah dapat kulihat mukanya itu memposisikanku sehingga aku duduk bersimpuh. Lalu, yang terakhir kulihat hanyalah kilatan benda logam tipis panjang serupa pedang yang mengarah ke bagian leher di belakang kepala. Di mimpi yang ketiga, aku berhasil memberontak sebentar sebelum akhirnya aku melihat sebuah tali dikalungkan ke leherku, yang lalu ditarik perlahan sampai akhirnya jiwaku kembali bangun dalam kesadaran. Tiga mimpi yang memiliki akhir yang berbeda, meskipun awalnya persis sama.

***

Sudah satu bulan berlalu sejak mimpi burukku yang ketiga kalinya itu, dan aku tidak bermimpi apa-apa lagi, tidak juga mimpi dihukum mati. Bahkan, tidak ada mimpi bercinta, atau mimpi menjadi kaya, atau mimpi yang paling sederhana seperti mimpi berjalan menyusuri kota (atau sebenarnya aku bermimpi namun tidak ada yang kuingat? Entahlah).

Malam ini, aku sudah berada di dalam pesawat untuk tugasku yang selanjutnya. Connor menugaskanku untuk meliput krisis kemanusiaan di Republik Demokratik Kongo. Gerakan milisi M23 yang memberontak kepada pemerintah Kongo telah menambah daftar korban jiwa dari perang yang sudah 12 tahun meneror penduduk Kongo dan membunuh 5,4 juta warganya.

Aku melongok ke luar jendela pesawat. Samudera Pasifik di waktu malam yang menjemukan itu tidak juga membuatku tertidur karena bosan. Sedangkan pria di sebelahku yang rasanya tadi hanya dapat melihat kursi di depannya saja sudah begitu terlelap sejak dari tiga jam yang lalu. Sampai akhirnya…

Jerami ini, lantai ini, jeruji itu… Rasa-rasanya sesuatu yang kukenal. Suara itu datang lagi. Ya, kaki yang sama yang melangkah mendekati jeruji. Ah, mimpi yang keempat kalinya rupanya. Aku sudah pasrah. Menunggu diseret keluar, menghadap ke kiri, lalu dibunuh di depan umum entah dengan cara apa kali ini. Dia datang, semakin dekat. Semakin mendekat. Tanganku disentakkan dan seluruh badanku diseret. Menjelang keluar dari kamar tahanan, aku melongok ke kiri seperti yang sudah-sudah. Gelap. Lalu tiba-tiba terang.

Alun-alun ini lagi, lantai kayu di panggung tengah alun-alun yang berdecit serta tatapan mata lautan manusia yang masih tetap merendahkan. Mengerikan. Meskipun sudah bisa menebak akhir dari mimpi ini, hatiku masih bergidik ngeri saat menebak-nebak instrumen kematian apa lagi yang akan menghabisiku kali ini. Aku sempat berharap pria yang disebelahku tadi melihatku menggigil dalam tidur dan membangunkanku kembali ke alam nyata.

Sang algojo menjambak rambutku ke atas dari belakangku, sampai aku berdiri terhuyung-huyung. Ah, bahkan di mimpi yang kali ini pun aku tidak dapat melihat mukanya. Sebagai gantinya, kulihat lima moncong senapan mengarah kepadaku. Salah satunya bahkan mengarah tepat ke tengah-tengah dahiku. Belum sempat aku bicara, tanpa ada aba-aba…

Dor!

Aku bangun tepat ketika ada pemberitahuan bahwa pesawat sudah akan mendarat ke Kinshasa. Pria di sampingku masih tertidur pulas. Aku membangunkannya, karena sudah saatnya mendarat dan memasang sabuk pengaman. “Tewima kasih,” katanya dalam bahasa Inggris dengan logat yang aneh, sepertinya orang Prancis. “Sama-sama”, kataku. Dan itulah satu-satunya percakapan antara kami sepanjang perjalanan di pesawat.

Dari Kinshasa, aku langsung menuju ke daerah Kivu Utara. Menanyai penduduk yang keadaanya begitu mengenaskan, seakan hidup di neraka. Bagaimana tidak, total 200.000 penduduk di Kivu Utara dan Selatan menderita akibat insurjensi dari gerakan M23. Hampir 4.000 penduduk wanitanya diperkosa. Anak-anak direkrut menjadi tentara. Belum lagi kelaparan, penyakit, dan kekurangan air bersih yang menghajar warga-warga tak berdosa ini tanpa ampun. Pemandangan seperti inilah, yang menghancurkan imanku kepada tuhan.

Setelah melakukan investigasi seharian, aku bermalam di sebuah rumah penduduk di daerah Goma. Nama pemiliknya Omasombo Tampa. Rumahnya sangat sederhana. Hanya ada tiga kamar tidur dan satu kamar mandi di luar (lebih tepatnya, satu tempayan berisi air dan seng yang menutupinya). Kamarku sendiri ada di pojok kiri belakang rumah, tanpa jendela, dan berwarna kemerah-merahan karena debu. Aku trenyuh, di tengah keadaan seperti ini, masih ada yang mau terbebani oleh kedatangan orang asing yang belum tentu juga dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik. “Kami berharap kepadamu”, katanya. Ada ketulusan dan kepasrahan yang menyesakkan ketika aku memandang matanya.

Aku sudah hampir tertidur ketika ada yang menggedor rumah Tampa. Aku mendengar perdebatan yang sengit lalu suara gedebukan. Aku keluar kamar, dan belum seluruh anggota tubuhku keluar, popor senjata sudah menyambut wajahku. Aku hendak menangkis lagi ketika sudah ada dua orang yang membawa tali dan mengikat kaki dan tanganku. Tampa sendiri sudah tergeletak pingsan di dekat pintu. Aku diseret keluar, dan salah seorang dari mereka yang bertopi baret membawa laptop dan kertas-kertas kerjaku. Menjelang keluar dari rumah Tampa, wajahku dipopor lagi. Kali ini begitu keras hingga aku tak sadarkan diri.

Aku bangun dari pingsanku dengan tamparan yang keras dan membekas panas di pipi. Si topi baret itu rupanya yang menamparku. Aku diikat di kursi, menghadap kira-kira selusin orang yang semuanya membawa senjata AK-47.

“Kamu. Barat. Tidak ada urusan di sini. Ini negara kami”, kata si topi baret dalam bahasa Inggris yang patah-patah.

“Aku ke sini hanya sebagai pekerja kemanusiaan, bukan perwakilan negara apalagi mata-mata.”

“Kamu dan tentara MONUSCO* itu sama saja. Mati!”

“Mati! Mati!” teriak orang-orang di belakang si topi baret.

Si topi baret mengacungkan senjatanya tepat di tengah-tengah dahiku. Seperti salah seorang penembak di mimpiku yang terakhir di pesawat.

Aku menutup mata. Membayangkan semuanya. Ayah dan Ibuku. Keluargaku. Teman-temanku. Connor, Simon, serta kolegaku yang lain. Kehidupanku andai saja aku tidak memilih hidup seperti ini, di mana aku tidak perlu mempertaruhkan nyawa dan bisa tinggal tenang bersama anak dan istri. Dan, yang paling menyakitkan, adalah mengingat wajah Tampa. Orang terakhir yang harapannya gagal kuwujudkan.

“Jangan! Jangan!”

Dor!

Sepersekian detik sebelum kematian adalah sunyi. Dan aku masih membayangkan apakah dunia masih akan tetap keji. Dan apakah koran-koran akan memberitakan namaku esok hari. Apakah kehidupanku dulu sudah cukup berarti? Apakah setelah kematianku ini masih akan ada lagi, atau selesai sampai di sini?

Apakah…

***

“Kenapa, Mas? Mas Munir kok sepertinya sakit? Sudah Mas, ditunda dulu saja ke Amsterdamnya.”

“Ah, nggak apa-apa. Aku hanya mimpi buruk. Udah yang ketiga kali ini.”

Suaranya terdengar parau.

-------

Post-Scriptum:

*MONUSCO adalah Misi Organisasi Stabilisasi Perserikatan Bangsa-bangsa di Republik Demokratik Kongo.