Thursday, October 11, 2012

A Game Theory Approach on PHP

PHP stands for (in Bahasa) “Pemberi Harapan Palsu”, or “The Giver of False Hope”. It signifies the situation where someone (say, Adam) gives attention/love to other person (say, Britney) in hope that the other person will reciprocate his love back. If Britney decides not to reciprocate back, or sending mixed signal (thus either deliberately/unknowingly “fish” Adam to give Britney more love), Britney can be said as a PHP.

The setup is like this: let’s say the initial amount of love (l) for Adam and Britney is 5 for each person. Adam can either not give a damn to Britney (payoff is 5, 5 for both of them) or he can give that love to her. If Adam decides to give all his “love stock” to B, it is being multiplied (m) to be 20 for Britney, then Britney can decide whether she wants to split that 20 “love stock” for both of them (payoff is 10, 10) or keep them for herself (payoff is 0, 20 for Adam and Britney subsequently) thus resulting in Adam’s “love stock” to become zero, a.k.a. he is gonna be devastated or heart-broken. Zing! Britney can also decide to give only Adam portion of attention (keeping a portion of love stock x to herself), let’s say, 6 “love stock”, resulting in a payoff of (6, 14) for Adam and Britney.

The movements here are represented with g, n, r, k which stand for “give love”, “not give a damn”, “reciprocate”, and “keep”, respectively. Probability (p) of Britney to either play r or k is arbitrarily chosen as 50%, though in real life you can’t assign definite probability to love. Also, in this illustration, r means a 50:50 split of the “love stock” (not including the x, see above paragraph), which is also an arbitrary condition. END means one of the parties decides to stop the game.


The setup, assuming Britney will always either split in half or not at all, with 50% probability.

The usual Nash equilibrium strategy for Adam and Britney is (n, k) - Adam must never play the game; Britney, whenever Adam plays the game, must always keep all the love for herself and leave Adam with nothing. This will give a payout of (5, 20) for them. However, this strategy is not an evolutionary stable strategy if the game is iterated. Not to mention, you know, love is sorta continuous, amirite?.

Adam can rationally decide to give love continuously (in N-times iterated/repeated games) if he can be *100% sure* that Σ (m . li – xi), from i = 1 to N, will always ≥ N . l. But, this is not always the case, as Adam can never control Britney’s mind to reciprocate his love, hence there exist variable p and x which may evolve (and can't be rationally predicted by Adam) over times. Therefore Adam’s continuous love is irrational as certainty isn’t assured. Using coin to randomly determine Britney's responses in repeated games, you can see how Adam is basically being stupid if he decides to play along.


Table of Adam's payoffs. Adam:  stupid person.

Britney’s position, on the other hand, will always put her in advantageous place no matter what Adam is doing. However, in order to maximize her payoffs, she needs to “fish” Adam into playing the game repeatedly. She can mix her “reciprocate” and “keep” signal to give Adam an “illusion of love” to keep playing the game. She won’t get lose anyway. Hence: the PHP.

In order to maximize his position, Adam must keep track of Britney’s reactions, and leave the game immediately whenever Britney decides not to respond to his love. But, in real life, this is not the case, why? Economically speaking, Adam unconsciously shifts his reference point to zero whenever he plays each section of these repeated games of love. Therefore, in his mind, it’s as if the game is always starting from zero (no accumulated losses, no accumulated gains) and discontinuous.


Adam: not knowing that he is stupid.


Genuine love is irrational. Being a PHP is rational.

Q.E.D.



P.S.:

There are some caveats. Note that: 

a) The coin that I used to randomly determine Britney's responses may or may not be a fair coin (putting aside the Central Limit Theorem and law of large number.), 

b) Using coin to determine Britney's responses was, strictly speaking, misapplied, since I was not intending to portray Britney as if she uses mixed strategy at the very first place.

Even though Adam's expected value Σ pi (m . li - xi) from i = 1 to N on the second row of the table on the ilustration above equals to N . l, that is, both are 50, Adam's decision not to give a damn bears much better result than if he chooses to give love to Britney. The act of giving love is a costly signalling, though, I didin't incorporate such signal costs in the illustration aforementioned.

Thursday, October 4, 2012

Sebuah Senandung dari Sudut Rak Susun

Teruntuk dia yang empunya rekaman.

Aku hanya bisa berterima kasih. Sebuah sudut temaram di sebuah rak susun jauh lebih baik adanya daripada harus berada di pinggiran jalan. Dibuang, diinjak-injak orang, dan lantas terlupakan. Aku tidak merasa sedih, hanya terheran-heran. Bagaimana bisa rekaman yang bersenandung tanpa arti masih layak untuk disimpan? Bahkan, untuk terpatri dalam ingatan?

Merasamu begitu jauh, namun juga begitu dekat, sudah cukup untuk membuatku sangat bahagia. Mendengarkanmu masuk ke dalam rumah, berjingkat-jingkat sambil bersenandung bak anak berumur lima tahun bagiku terasa seperti surga. Persetan dengan kotak kaset ini. Tidak akan ada belenggu yang cukup kuat untuk menghalangi. Tidak juga rak susun yang kau miliki.

Akan ada saatnya nanti di mana aku akan keluar dan bernyanyi. Di hadapanmu. Supaya kau tahu aku nyata, dan kau tidak usah menunggu. Kapan? Aku pun tidak tahu. Namun, kau harus tahu, di saat kau sedang tak melihat, di saat kau sedang terlelap dalam mimpimu, di saat kau sedang pergi meninggalkan rumahmu dan aku, ada sebuah kotak kaset yang perlahan-lahan retak. Terdobrak. Sedikit demi sedikit. Itu aku yang sedang mencoba merangsek keluar, meskipun terkadang dalam prosesnya terasa pahit dan sakit.

Selanjutnya, semua adalah kamu. Dan, nasib kaset ini: apakah suaranya sumbang dan layak dibuang, ataukah dia akan kembali disimpan di sudut rak susun yang temaram, ataukah nyanyiannya dan nyanyianmu akhirnya menjadi satu, semuanya ada di tanganmu.

Kamu tidak perlu merasa resah. Karena nyanyianku akan selalu tentang kebencian untuk mengucap kata berpisah.*


P.S.: Kau tahu? Tempat yang kutempati ini tidaklah sepenting dirimu. Tentu saja aku rela menukarnya dengan kesempatan berbagi perjalanan denganmu.

*Terimakasih, van Pelt.

Wednesday, October 3, 2012

Memento untuk Ayah


“Gue benci banget sama bokap gue! Ini nggak boleh, itu nggak boleh. Bikin bete!”

Ingin sekali kutampar mukanya saat itu.

“Lo harusnya bersyukur, masih punya bokap yang masih bisa merhatiin lo.”

Lalu kami terdiam, ditemani sebotol bir yang sudah tak lagi dingin dan gelas yang sekarang hanya berisi angin.

---------------------

Orang-orang sok bijak di jejaring sosial seringkali berkata, “Kita tidak pernah tahu arti pentingnya seseorang, sampai kita kehilangan orang tersebut.” Aku tidak setuju. Orang bisa datang dan pergi, dan seringkali, kita tidak merasakan apa-apa. Menurutku, kita tidak pernah benar-benar tahu arti pentingnya seseorang, sampai kita bisa merasakan penyesalan yang teramat sangat ketika kita mengecewakan orang tersebut. Aku tahu benar rasanya. Rasa marah pada diri sendiri yang teramat dalam, menyesali kebodohan-kebodohan yang dulu kulakukan. Kepada ayahku. Yang baru kusadari ketika ia pergi selama-lamanya meninggalkan diriku.

Ayahku adalah seorang yang sangat konservatif, baik dari agamanya, maupun dari sisi ke-Jawa-annya. Menurutnya, seorang anak tidak boleh membantah perkataan orang tua, tak peduli orang tua itu benar atau salah. Masih teringat benar, bagaimana sedari kecil aku dilarang untuk melakukan ini dan itu. Tidak boleh main ke sana dan ke situ. Bahkan ayah pernah menyita buku Charles Darwin milikku. Namun, jiwaku memberontak. Aku menentang perkataannya. Aku tak mengindahkan larangannya. “Anak itu kalau dikasih tahu orang tua, harus nunduk dan jangan membantah!”, demikian ujarnya tiap kali kami berselisih. Mendengarnya aku merasa risih. “Lihat tuh, anak-anak kampung sini! Kalau dinasehati orang tuanya nggak ada yang bandel. Nggak kayak kamu!”, katanya sambil mengarahkan telunjuk ke arah rumah tetangga. Menjemukan. Namun aku tak juga peduli. Memangnya, orang tua itu pasti selalu benar dan sempurna? Memangnya seorang anak tidak punya hak untuk mengajukan pembelaan dan harus sendika dhawuh terus-terusan? “Hidupku ini hidupku sendiri!”, ujarku sambil bersikap pongah seakan sudah bisa menaklukan dunia.

Di mataku, ayah bak seorang presiden sebuah negara otoritarian. Dan aku yakin, di matanya, aku seperti mahasiswa anarkis yang bisanya hanya teriak-teriak tak keruan. “Nak, Nak, kamu nanti kalau sudah besar jadi pengacara saja. Sudah cocok sama sifatmu yang suka ngeyel itu.”, begitu kelakar ayah sambil tertawa di suatu senja. Aku tak tahu, dan tak akan pernah tahu, apakah dia tertawa karena leluconnya, atau sedang mencoba menghibur diri dari kegetiran hatinya saat melihat kelakuan anaknya.

Lalu, pada suatu waktu, aku tak tahu persis kapan, ayah terkena stroke. Ayah memang dari dulu suka makan durian dan sate kambing, perokok berat pula. Dia dirawat sekitar dua minggu di sebuah rumah sakit swasta. Setiap hari aku mengunjunginya, dan hal yang paling tak bisa kumaafkan sepanjang hidupku adalah aku tidak merasa apa-apa. Tidak pula sedih. Hampa. Ketika ada rombongan dari gereja yang mendoakan, aku hanya bisa turut mengamini, tanpa bisa mengimani. Aku bisa melihat pada ayah, ada sorot mata kekecewaan tiap kali aku masuk ke ruangan tempat ia dirawat. Namun, aku tetap saja tidak merasa apa-apa. Tidak bisa. Bahkan, pada detik ketika dia meninggal, tak setetes pun air mataku jatuh. “Memang sudah harus diikhlaskan, daripada ayah tersiksa dengan alat-alat rumah sakit itu,” begitulah aku mencari rasionalisasi. Mungkin saja pada waktu itu hatiku memang sudah mati.

Baru ketika jasadnya sudah ditelan bumi, aku menelaah kembali hubungan kami. Aku baru mengerti, bahwa lawan kata dari cinta bukanlah benci, namun keteracuhan. Ayah yang tidak peduli adalah ayah yang lebih buruk daripada ayah yang suka memarahi. Dan apa yang dilakukan ayah adalah wujud cinta yang sesungguhnya. Ia hanya mencoba melindungi diriku yang masih rapuh dari kerasnya dunia ini. Ketika aku sadar itu, barulah seluruh air mataku tumpah. Aku mengalami penyesalan yang lebih besar dari semua penyesalan yang pernah kualami sepanjang hidupku. Namun semua sudah terlambat. Terlambat untuk meminta maaf dan mengubah sikap. Terlambat untuk menunjukkan rasa cinta dan hormatku kepadanya. Terlambat untuk melakukan hal yang terbaik baginya. Keterlambatan-keterlambatan yang akan terus menghantuiku sampai ajal nanti. Aku meraung, tapi langit tak pernah menjawab tangisanku. Tak akan ada ayah lagi. Aku menyesal. Sungguh sangat menyesal.

---------------------

Suara lagu “Soldier of Fortune” dari Deep Purple mengalun dari radio di suatu hari sepulang sekolah, membangkitkan semua kenanganku tentang ayah. Ya, ini lagu kesukaannya. Di otakku, imaji tentang ayah membuncah. Aku melihat dia sedang duduk di depan komputer sambil memainkan lagu ini dan memintaku untuk menemaninya mengerjakan pekerjaannya.

Pikiranku kemudian terseret ke belakang, kepada kenangan-kenangan lain tentang dia. Ketika pertama kali ia mengajariku naik sepeda. Ketika pertama kali ia mengajariku memetik gitar. Ketika ia membawaku jalan-jalan berdua saja dengannya. Ketika dia menasihatiku sambil bersantai menonton layar kaca. Ketika dia datang jauh-jauh dari kantor hanya untuk melihatku berlomba. Ah, mengapa dulu aku mempersangkakan yang buruk tentang ayahku? Bukankah dia benar-benar seorang ayah yang baik?

Andai saja dapat kukendalikan waktu, aku hanya ingin kembali lagi ke masa-masa itu, ayah. Menikmati kata-katamu. Mendengarkan cerita-ceritamu. Mengenang wajahmu. Bahkan aku ingin kembali tersesat, agar kau bisa menemukanku lagi dan membawaku dalam pelukmu.

Lagu berhenti, dan setelah itu ayah pun pergi. Meninggalkan aku dengan hati yang sekali lagi sepi. Jujur, setelah itu, aku selalu memainkan lagu yang sama berulang kali. Mencari lima menit di mana dia bisa hidup dan kami bisa bertemu lagi di dalam memori. Karena, bagaimana lagi aku harus mencari jalan untuk kembali?

---------------------

Bir sudah habis, bahkan botol dan gelasnya sudah diangkati oleh pelayan. Kami belum juga beranjak pergi.

“Gue pesen minum lagi, yak? Nggak enak sama pelayannya.”

“Terserah lo aja.”

Dua cangkir kopi hangat datang dan dua batang rokok kemudian, kami masih terhanyut dalam keheningan.

“Jangan sampai lo entar nyesel kayak gue. Gue baru tahu, kalau ternyata sikap over-protektif orang tua itu buat kebaikan kita, baru setelah gue kehilangan bokap gue. Gue belajar ini the hard way, man! Gue nggak mau, kalau entar lo baru sadar setelah semuanya terlambat,” kataku membuka kembali percakapan.

Mengapa aku baru sadar ketika semuanya sudah terlambat?

---------------------

Aku suka pergi ke pusara ayah, sendirian. Di malam hari. Ditemani dua-tiga ekor nyamuk yang mengerubuti dan lampu neon depan kuburan yang sudah selayaknya diganti. Hantu? Ada yang lebih menakutkan daripada hantu. Yaitu sesuatu yang terus menempel pada diriku dan membuatku gagal berdamai dengan masa lalu. Aku rasa kalian sudah tahu apa itu.

Aku suka berbicara di depan pusara layaknya orang gila, seakan-akan ayahlah yang di sana kuajak bercengkerama. Meskipun sebenarnya hanya kesunyian saja yang selalu kudengar. Memang seperti inilah biasanya ketika aku bercerita kepada ayah. Seringkali ayah hanya memandangku tanpa berkata apa-apa. Sesekali ia mengajukan beberapa pertanyaan. Atau tertawa. Sungguh, aku suka sekali saat melihatnya tertawa.

Aku melihat tanggal di pusara ayah. Sudah enam tahun. Lama juga ternyata. Ah, bagaimana kelak jika aku sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari sini lalu berangsur-angsur melupakanmu, ayah? Sudikah kau untuk tetap bisa kuajak bercengkerama jika aku menemuimu lagi, di sini, setelah mungkin nanti aku lama tidak peduli?

---------------------

“Lo bisa dengan gampang bilang kayak gitu, karena bokap lo itu bokap kandung lo!”

“Apa bedanya? Karena bokap lo bokap tiri? Menurut lo, siapa yang lebih layak disebut orang tua? Dia yang ilang gitu aja? Atau dia yang selalu ada ketika lo butuhkan, saat lo sakit, yang ngawasin lo dari jauh dan siap nolong lo ketika lo jatuh, yang ngasih lo saran buat ngambil keputusan-keputusan yang penting di hidup lo sejak lo kecil, yang mau peduli sama bocah yang bukan darah dagingnya sendiri?”

Aku menghela napas. Lalu melanjutkan.

“Kesalahan lo adalah tentang definisi seorang orang tua. Nggak ada orang tua yang lo bisa patok sempurna. Beberapa memang baik banget, beberapa emang jelek banget, tapi kebanyakan orang tua ada di tengah-tengah, dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing. True perfection has to be imperfect, bro. Meskipun, sikapnya mungkin menurut lo over-protektif, he has always been there for you. Still is. And he has always loved you. Still does. Nggak kayak gue yang udah kehilangan.”

Dia menangis. Aku menangis. Menangisi ayah kami masing-masing.

Sedangkan malam semakin mengendap. Hanya kami yang masih menangis merajut harap.

---------------------
 
“Kamu itu mirip sama ayahmu, Nak.”

“Kok bisa?”, tanyaku kepada ibu.

“Ya dari cara ngomongnya, cara mikirnya. Kelihatan paling cuek, tapi sebenarnya yang mikir dan khawatir paling banyak. Kamu kelak harus bisa bikin ayah bangga dari surga sana, ya?”

Aku mengangguk dan tersenyum. Aku bahagia. Karena aku tahu ayahku sedang hidup kembali melalui aku.

Ayah, tolong awasi aku dari sana.


Tugasku baru saja dimulai.

---------------------

Teruntuk #Saujana dan ayahanda.

Tuesday, October 2, 2012

Tentang Alasan

* Bukan untuk #Saujana. Lagipula, ini terlalu singkat untuk dibilang sebagai cerita. 10 menit dan begitu saja ia lahir. Seperti itu.

--------------------------------------------------------------------------------------------- 

Aku selalu benci dengan pertanyaan “mengapa”. Memangnya, buat apa segala sesuatu harus memiliki alasan? Aku pun tak tahu juga alasan mengapa aku memilihmu – dengan bodohnya. Aku bisa saja lari, pergi tak kembali. Tetapi hatiku tidak sanggup. Selalu tidak sanggup. Kau selalu saja menemukanku ketika aku sedang bersembunyi dari dunia ini. Kau selalu saja merobohkan tembok batu yang sengaja kususun untuk melindungi diri. Kau selalu saja menjadi badai yang menghempaskan perahuku kembali ke pulaumu lagi.

Namun, jika kau bersikeras menanyakan alasannya, sederhana. Karena dunia ini - kecuali dirimu tentu saja – sangatlah membosankan. Tidak signifikan. Kau berbeda. Kau memandangku dengan cara yang entah bagaimana bisa membuat diriku merasa seperti seorang pahlawan, dan di saat yang sama sanggup menjungkirbalikkan semestaku. Kau adalah narkotika sekaligus petaka bagi jiwaku. Dan, kau tak mencintaiku. Masokis, bukan?

Aku merasa aku tidak perlu bertanya tentang perasaanmu padaku. Aku sudah tahu jawabannya. Takdir sudah menentukan jawaban apa yang akan aku terima. Karenanya, aku tidak berani bertanya.
 
Lihatlah bintang jatuh itu, yang tidak pernah bertanya mengapa dia harus menyerah pada gravitasi, lalu terbakar, dan mati jatuh ke bumi. Dia tahu benar tentang takdirnya. Tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak perlu diingatkan, bahwa sudah menjadi garis nasibnya kalau dia akan mati dan hancur berkeping-keping dalam perjalanan. Dalam langkahnya menuju kematian, ia hanya perlu menutup mata. Kalah, namun terpuaskan. Karena ia tahu, dalam kehancurannya, ada insan manusia yang berdoa. Yang bergandeng tangan sambil memandang langit dan menaruh harapan kepadanya.

Bukankah, hidup ini adalah sebuah lotere, yang menentukan siapa yang jadi bintang jatuh, dan siapa yang jadi manusia? Dan jika kali ini kau yang menjadi manusia, maka doakanlah agar si bintang jatuh ini tetap kuat dalam perjalanannya. Tidak perlu kau bertanya mengapa ia memilih menjadi bintang jatuh.




Karena hidup, dan begitu pula cinta, adalah sebuah lotere. Dan lotere, tentu saja tidak mempunyai alasan.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Jika semua ini harus berakhir, akhirilah. Pergilah. Menghilanglah. Karena aku tak sanggup melakukannya. Aku hanya bisa berjanji bahwa dirimu tidak akan hilang dan terlupakan. Dan kelak, ketika jalan hidup kita bersimpang lagi, aku akan mendapatimu di dalam gelap - sekali lagi.

Monday, July 30, 2012

The Dark Knight Rises: Tentang Anarkisme dan John Blake


Review ini hanya sekedar ikut-ikutan saja, karena banyak orang di Twitter yang sudah mengulas tentang film terbaru besutan Christopher Nolan dan juga seri terakhir dari trilogi Batman miliknya, “The Dark Knight Rises” (demikian akan disebut TDKR). Saya tidak akan mengulas tentang bagaimana kerennya teknologi CGI yang digunakan untuk membuat gambaran Batpod dan “The Bat,” atau scoring orkestratik milik Hans Zimmer yang terdengar sangat grandiose, atau berapa skor yang layak untuk film ini. Yang itu saya serahkan pada peresensi film saja.

Jika Anda berumur lebih dari 17 tahun dan sedikit banyak paham tentang kondisi politik dan ekonomi di dunia, khususnya di Amerika Serikat (dan jika kehidupan Anda tidak melulu dipenuhi dengan obsesi kepada bintang K-Pop), tentu mahfum bahwa di balik film TDKR ini terdapat sentimen politik, meskipun Nolan tidak terang-terangan mengakuinya. Hal ini tidaklah mengejutkan, mengingat sebenarnya, jika kita bisa melihat jauh melampaui performance apik dari Joker-nya Heath Ledger di film sebelum TDKR, yaitu “The Dark Knight”, ada alegori tentang situasi politik yang dialami Amerika Serikat pascaperistiwa 9/11 yang bisa ditarik darinya. Misalnya, bagaimana Joker mengakali anak buahnya untuk menjalankan aksi yang sebenarnya merupakan misi bunuh diri (here goes the terrorism). Atau bagaimana pahlawan kita Bruce Wayne alias Batman menculik Lau, sang akuntan para mafia, di Hong Kong (here goes the extraordinary rendition). Atau, bagaimana Batman dan Lucius Fox menyadap sinyal telepon genggam orang-orang dan menggunakannya sebagai pelacak (here go the PATRIOT Act and wiretapping). Bahkan, ada yang membandingkan pertarungan Batman vs. Joker sebagai “perang” antara Dick Cheney dengan Osama bin Laden.


Sinopis (SPOILER ALERT!)


Kisah TDKR sebenarnya sederhana: Bruce Wayne (diperankan oleh Christian Bale) yang kecewa karena kematian kekasihnya Rachel Dawes serta terpaksa dikorbankan image-nya sebagai pahlawan agar Harvey Dent, sang jaksa-brilian-namun-berubah-menjadi-penjahat-bernama-Two-Face namanya tetap harum, mengasingkan diri selama delapan tahun. Dia tahu dirinya tidak dibutuhkan lagi oleh Gotham; sudah ada Harvey Dent Act yang menjaga para penjahat dibalik jeruji besi. Dan dengan demikianlah dia kehilangan semangat hidup, karena dia tidak tahu harus hidup demi apa atau siapa lagi. Sampai muncullah seorang teroris bernama Bane (Tom Hardy).


Tom Hardy sebagai Bane. Sebenarnya saya berharap Vin Diesel saja yang memerankannya.

Tidak seperti Joker yang terkesan chaotic dan hanya ingin melihat dunia terbakar, Bane memiliki sebuah cita-cita yang di luarnya tampak mulia: menghancurkan sistem dan mengembalikannya kepada rakyat. Dia memiskinkan Bruce Wayne, membebaskan para penjahat, mempersenjatai mereka, dan mencuri teknologi fisi milik Wayne Corporation dan mengubahnya menjadi bom neutron. Gotham jatuh, bahkan lebih hancur daripada sebelumnya ketika di tangan Joker. Anggota kepolisian Gotham terjebak dan tidak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang kaya dirampok dan dibunuh. Sisanya diadili secara kejam di “Pengadilan Rakyat” yang hukumannya hanya ada dua: dibuang atau mati, yang keduanya sama-sama berujung pada kematian.

Batman tidak berdaya baik secara fisik maupun semangatnya, dan bahkan dikecewakan lebih lagi oleh pelayannya yang setia, Alfred Pennyworth (Michael Caine). Beruntung di antara penduduk Gotham masih ada orang-orang seperti Lucius Fox (Morgan Freeman), Opsir John Blake (Joseph Gordon-Levitt), dan Komisaris Polisi James Gordon (Gary Oldman – masih brilian seperti biasanya) yang membantu. Juga ada Selina Kyle (Anne Hathaway), Robin Hood-slash-femme fatale yang lincah seperti kucing, yang akhirnya datang sebagai juru selamat. Di akhir, siapa kawan dan siapa lawan akhirnya terungkap. Dan Batman harus menghadapi kekecewaan (sekali lagi) bahwa musuh yang selama ini dicarinya ternyata ada di bawah hidungnya, serta keadaan yang memaksa dia untuk mengorbankan hal terbesar yang dapat diberikan oleh seorang pahlawan, yakni hidupnya sendiri, bagi kota yang selama ini menganggapnya sebagai seorang penjahat.


Tentang Anarkisme?


Kali ini alegorinya cukup jelas. Dengan adegan nyanyian “The Star Spangled Banner” dan bendera Amerika Serikat yang compang-camping, orang bisa melihat konteks tentang kesenjangan sosial di Amerika Serikat dan gerakan “Occupy Wall Street” di film ini – selain juga mencatut Harvey Dent Act yang sangat mirip dengan PATRIOT Act  sambil lalu dan kemudian tidak dikembangkan lagi.  Digambarkan di TDKR bahwa kalangan pengusaha, bankir, pialang saham, dan orang-orang kaya lainnya sibuk berpesta dan menyibukkan diri dengan kegiatan filantropis dangkal berkedok acara penggalangan amal – atau dengan meminjam kalimat Selina Kyle - mereka “hidup berkecukupan dan menyisakan hanya sedikit saja bagi orang lain”. Di sisi lain, ada anak-anak panti asuhan yang tidak terurus, ada tukang semir sepatu yang terpaksa merendahkan dirinya di depan dua orang pialang saham demi satu atau dua dollar. Lalu datanglah Bane dengan semangat revolusi yang tampaknya pro-rakyat cilik. Dia “menyerahkan” Gotham kembali ke tangan rakyat. Rakyat yang selama ini tertekan oleh kemiskinan dan ketidakadilan memberontak kepada kaum elit, lalu runtuhlah tatanan sosial di Gotham. Apa yang coba diungkapkan Nolan dengan kontekstualisasi macam ini? Apakah dia mencoba mengingatkan kaum satu persen tentang konsekuensi menjadi kikir, a la sinetron Hidayah? Mungkin saja. Namun, apakah penggambaran seperti ini does some justice terhadap gerakan revolusi rakyat yang berlandaskan anarkisme dan sosialisme? Saya tidak setuju.

Ada yang bilang revolusi yang dilakukan Bane mirip dengan apa yang dicetuskan Mikhail Bakunin (bubarkan penjara, bunuh orang-orang kaya!). Saya rasa tidak. Revolusi yang dilakukan Bane dan Miranda Tate/Talia al-Ghul (diperankan oleh Marion Cotillard yang luar biasa cantik) tidak berlandaskan filosofi apa-apa, melainkan hanyalah sebuah intrik balas dendam dan sekedar father issue. Apakah rakyat yang miskin dan yang termarjinalkan lah yang sedang berrevolusi di kota Gotham? Bukan. Mereka adalah eks-napi yang banyak diantaranya adalah anggota mafia, geng, dan mob. Lagipula, anarkisme bukanlah konsep yang membenarkan orang merampok atau memperkosa satu sama lain hanya karena adanya semangat free sharing. Anarkisme tetap menghormati dan menganggap penting adanya consent atau persetujuan orang lain (meskipun dalam teori anarkisme, menghormati consent orang lain ini tidak di-enforce oleh negara). Sosialisme juga bukanlah tentang mengambil kalung mutiara milik orang kaya, tetapi tentang penggunaan means of production secara komunal. Dan lagi, anarkisme tidak melulu tentang kekerasan. Simak apa yang dicetuskan Henry David Thoreau, Mohandas Karamchand Gandhi, dan Leo Tolstoy sebagai anarcho-pacifism. Apa yang dilakukan Nolan justru bisa jadi akan menambah sentimen anti-kiri gaya Republikan yang sekarang mulai kuat kembali di Amerika Serikat.

Sosok Alfred pun tidak kalah problematisnya. Dia menganggap bahwa yang dibutuhkan seorang Gotham bukanlah Bruce Wayne sebagai Batman, namun sebagai seorang filantropis. Filosofi “filantropi sebagai alternatif dari revolusi” macam inilah yang salah sasaran. Bruce Wayne sendirian tidak mungkin menghapuskan kesenjangan sosial dengan kedermawanannya. Impuls sosial yang melahirkan revolusi ada bukan karena cuma ada sebiji-dua biji dermawan di kota. Hal ini bukan berarti bahwa charity itu tidak layak untuk dilakukan. Bukan. Namun, ada struktur politik, struktur ekonomi, dan struktur sosial yang kesemuanya menciptakan kesenjangan dan ketidakadilan di masyarakat yang tidak akan hilang semata-mata karena ada aksi kedermawanan beberapa orang kaya. Revolusi anarkis/sosialis mencoba mengubah tatanan semacam itu, dan Bruce Wayne bisa saja menyalurkan Messiah complex yang dideritanya untuk mendukung revolusi tersebut. “Struktur adalah belenggu,” demikian kata John Blake, dan vigilante macam Batman dan John Blake yang mampu melewati struktur inilah yang seharusnya mampu membantu revolusi mengubah tatanan kota Gotham menjadi lebih baik.


Siapa Pahlawannya?


Nolan adalah penutur yang jenius. Dia bisa membuat film yang appealing ke pencinta film block buster maupun pecinta film non-mainstream; yang appealing ke anak-anak yang gemar Batman, maupun ke bapak-ibunya yang gemar politik (meskipun saya yakin sepanjang film mereka pasti pusing ditanyai oleh anak-anaknya). Ia mampu merekonstruksi habis-habisan tokoh-tokoh macam Joker, Bane, dan Selina Kyle, serta mengkontekstualisasi ulang cerita dari komik Batman (misalnya, menciptakan tokoh John Blake dan memakai kisah Bane yang lahir di penjara sebagai kisah hidup Talia al-Ghul). Nolan juga mampu menciptakan film superhero tanpa superhero, yang biasanya dipatok tanpa cela. Bagaimana tidak? Hampir semua tokoh di TDKR mengalami momen kepahlawanan dan kejatuhannya masing-masing. Batman, sang tokoh sentral, pada mulanya undur diri jadi pahlawan, meskipun dia tahu benar Gotham membusuk perlahan-lahan. Komisaris Gordon, terpaksa menyangkal dirinya setiap tahun pada peringatan Harvey Dent Day dan terlibat pada konspirasi untuk menjatuhkan Batman agar Harvey Dent Act bisa dijalankan; meskipun dia tahu benar Harvey Dent lah penjahat sesungguhnya dulu. Alfred Pennyworth, sang pelayan keluarga Wayne yang setia, pergi meninggalkan Bruce Wayne bahkan pada momen-momen terendah dalam hidupnya sebagai Batman. Selina Kyle meskipun jadi pahlawan, mulanya adalah pencuri spesialis orang-orang kaya dan juga pada satu waktu mengkhianati sang Batman. Bane, si penjahat, ternyata digambarkan dulu pernah menolong Miranda Tate/Talia al-Ghul kecil ketika waktu masih dipenjara di Pena Dura. Dan Miranda Tate/Talia al-Ghul, di balik misi mulianya untuk menolong Gotham menyediakan energi yang murah dan terbarukan, ternyata mastermind hancurnya Gotham selama ini.

Marion Cotillard sebagai Miranda Tate. Anggun sekali. How can you not love her?

Sesungguhnya, tokoh yang tidak melenceng dari pakem klasik seorang pahlawan adalah John Blake. Lihat saja integritasnya ketika polisi lain mencoba menangkap Batman demi ketenaran, dia satu-satunya yang percaya bahwa Batman-lah pahlawan Gotham yang sebenarnya. Dialah yang berani bertaruh nyawa demi menyelamatkan polisi Gotham lainnya yang terjebak. Dialah yang mengetahui (entah bagaimana caranya, tidak dijelaskan) tentang alter ego Bruce Wayne dan meyakinkan padanya bahwa Gotham masih memerlukan dia sebagai Batman. Dan ketika Batman telah lengser, Gotham masih bisa bernafas lega, karena dari Bat Cave akan muncul seorang pahlawan anyar: Robin John Blake.

Tuesday, June 12, 2012

On Religion, Part Four: Presumed Origin

The origin of religion, along with language, music, and art, as some of the products of human civilizations, are not so much understood. But, it is well-established that religion, even though it opposes evolution, in fact emerged from the evolution of human brain. This is why humans alone practice religion because they're the only creatures to have evolved the necessary brain architecture to imagine things and beings that don't physically exist, like souls, and the possibility of life after death. To understand how religion developed, we can observe from individual sphere and social sphere.


Individual Origin


Supernatural concepts are heavily attached to humans' intuition. This intuitive and imaginative ability was first evolved circa 30.000-50.000 years ago, during the Upper Paleolithic, the final end of Stone Age. That time, arts (like petroglyphs, cave paintings), funerary*) artifacts, and more sophisticated and diverse rock tools begun to bloom. This intuition led to "agency detection," that is the tendency to "feel" or register the presence of agency even though there is only inconclusive evidence. "Agency detection" coupled with humans innate desire to find and seek meaning and other novel things led them into primordial supernatural concepts. When primitive humans, for instance, see lightning, which is outside their capability to explain (unlike now, we know how lightning can be formed.) and given its destructive power, loud sound of thunder, and majestic appearance of the lightning, it's easily to ascribe lightning as something that comes from God, or even that there is God of lightning.  If this intuitive capability is somehow diminished, then people will be less likely to believe in God or other supernatural concepts. There are at least three studies to support this:


1. The study that shows that people with autism are less likely to believe in God. It tells us that that religious belief relies on being able to intuitively conceptualize deities as intentional agents with mental states who anticipate and respond to human beliefs, desires and concerns, a capacity known as "mentalizing." Autistic people, lacking the ability to imagine what other people are thinking, are having difficulty in conceiving the notion of a concerned God, and therefore less likely to believe in it.


2. The study that shows that people with analytical thinking are less likely to believe in God. Humans use two separate cognitive systems for processing information: one that is fast, emotional and intuitive, and another that is slower and more analytical. The first system innately assigns purpose, mental state, and personality to objects, leading to supernatural beliefs; but activating analytical thinking can override this intuitive system, leading to disbelief in God.

3. The study that shows that children have a natural propensity to regard the world as intentionally and purposefully designed. They instinctively believe that almost everything has been designed with a specific purpose. It turns out that this bias can extend into adulthood, leading children into religious persons.


Social Origin

How did individual belief then develop into such organized religion? The key is on the size of society. At least until 12.000 years ago, humans lived in relatively small groups which mostly consisted of family or had some sort of familial relationship. Cooperation among them was ensured by kin cooperation and reciprocal altruism. But as the size of the groups grew vast, the interactions with strangers were inevitable and occurred more often, thus humans needed an extra safeguard to ensure the cooperation among them - safeguard to punish the violators and free-riders. Thus religion comes to rescue. Since humans at that time hadn't been able to conceive legal system as what we have nowadays, with its laws, legislators, polices, prosecutors, lawyers, judges, and courts, the idea that there is an omniscient, omnipresent, watchful God made people cooperate and ensuring the contracts. This study tells us that thinking about God makes believers feel as if their behavior is being monitored, and, subsequently, increases their public self-awareness and socially desirable responding.

There are also some studies that support the notion that people will better cooperate if they're under the impression of being watched. This study, for instance, shows that even subtle exposure to drawing resemble eyes encourage good behavior among strangers. Another study shows that children's belief in an invisible person inhibits cheating. Another, shows that believers in omniscient-omnipresent God are more generous than those who believe in deities who aren't as omniscient and as morally concerned. Even, according to this study, exposing people to words like "God," "spirit," and "divine" increases their generosity in economic dictator game.

The role of religion (or belief in God) to maintain social cohesion is perhaps the reason why atheists have the lowest approval ratings of any social group, including other religions. Intolerance of atheists stems from the intuition that people will behave better if they feel that a God is watching them. Thus, outward display of disbelief in a watchful God can be perceived as untrustworthy.

When the concept of omnipotent-omnipresent-omniscient, interventionist, watchful God became increasingly common, religion then intertwined to morality; making the notions of supernatural punishments and blessings, damnation and salvation, heaven and hell, karma, etc. also became more increasingly common. As the society gets even larger, ritual became even more essential, as displays of strict religious devotion such as fasting, taboos, animal sacrifice, martyrdom signify a sincere intention to cooperate. Some prominent figures then rose with the claim that they were chosen by God or ever directly talked to God**). If people believe in them, then they started establishing some rituals and particular definitions/characteristic/descriptions of God and enforced them to other people. If not, then they might be considered crazy. These particular rituals and God concepts were passed to next generation via oral tradition or written scriptures. The era of organized religions thus begun.

Towards Post-religionism?

As development of secular morality such as secular humanism, and also the development of legal system to protect people from violation of each others' rights and/or bind them into their obligations, religion becomes more estranged in human lives. In secular countries, like Scandinavian countries, the role of religion to ensure social cohesion has been replaced by secular concept, yet still somehow retains the happiness and cooperation among their citizens. Interestingly, atheism increases along with the quality of life. First, as to the distribution of atheism in the world, a clear pattern can be seen. Belief in God declines in more developed countries and atheism is concentrated in Europe in countries such as Sweden (64% nonbelievers), Denmark (48%), France (44%) and Germany (42%). In contrast, the incidence of atheism in most sub-Saharan countries is below 1%. The reason that religion loses ground in developed countries can be explained by how religion, with the concept that there is/are God(s) who care to human being and cater their needs, slowly losing its importance in human lives. With the better science, medicines, government safety nets, security, and legal protection, there is less fear and uncertainty in people's daily lives and hence less of a market for religion.


The development of science to replace religion as something that can satisfy human's desire to find meaning and purpose, pushes religion even further. Creationism and intelligent design are challenged by cosmology, physic, and evolutionary biology. The infallibility of Holy Book like Qur'an or Bible is challenged by historical study and textual criticism. The claims of miracle are challenged by chemistry, archaeology, anthropology, and medical science. One thing is left: that belief in God is a subjective experience (thus, there is no way to prove to disprove it.) However, recent developments in evolutionary biology and neuroscience***) have tried to decode the thought process that gives birth to the notions of God and religion. One day, when human mind is finally mapped and it turns out that religion is just a mundane brain phenomenon and there is nothing supernatural or holy about it, what is left from religion? We don't know. But are we ready?




Post Scriptum:

*) Even though burial rites first came 300.000 years ago during Middle Paleolithic, there are still debates whether their purpose has supernatural meaning or just simply honoring the dead.


**) It has been suggested that religious figures like Moses (on Exodus 3 and Exodus 19), Saint Paul (on Acts 9:1-19a, Acts 22:3-16, Acts 26:9-18, and perhaps 2 Corinthians 12:7), and Seventh-day Adventists Church founder Ellen White (who once had brain trauma when she was 9) all had temporal lobe epilepsy, which may cause hallucination. This hallucination could be mistakenly perceived as religious vision or divine encounter. Some even wilder theory suggests that Moses was under the influence of psychedelic plants when Ten Commandments were given.


***) - For instance, the "light tunnel" vision during near death experience/NDE (in which some people ascribed that with a journey to the afterlife) can be explained by hypoxia/cerebral anoxia (lack of oxygen to brain.) When a person enter clinical death, brain is deprived of oxygen supply and higher brain areas (frontal lobe, parietal lobe, occipital lobe, and temporal lobe) in the cortex quickly blank out. The more primitive lower brain area (medulla, pons, midbrain, thalamus, hypothalamus) remains active for several minutes, causes "neural noise," or an overload of information sent to the brain's visual cortex, creating an image of a bright light that gradually grows larger, which may be interpreted as going through a tunnel. NDE can also be explained by a sudden REM sleep state while brain is still awake, that is triggered by extreme stress or trauma. Since the higher brain (to process spatial sense, logic, and bodily perception) is malfunctioning during NDE, sensory inputs that come from lower brain (in which also regulate memory) are not processed, resulting in out-of-body experience (OBE), "traveling in extra dimensions," and encounter with angel, demon, God, or dead people. NDE also triggers brain to release endorphin as coping mechanism, which may cause the tranquil, calm, heavenly sensation. Sensory malfunctioning and euphoric sensation from the endorphin together can be simply mistakenly perceived as "afterlife." See also God helmet.


- OBE or astral projection itself can be explained by malfunctioning in temporal parietal junction, causing brain unable to distinguish what is real or not.


- Transcendental feeling when people are meditating is now linked with increased activity in frontal lobes (makes people having more attention and focus.) The thalamus also shuts down normal sensory input during meditation. The parietal lobes (which regulate our spatial and temporal perception) is also less active. Add to that increased flow of endorphin, giving the sensation of having a sense of timelessness, a suspension of self, a feeling of bliss and being "united with universe."


- Speaking with tongue (glossolalia) is associated with lower activity in frontal lobes - the thinking, willful part of the brain through which people control what they do, as were the language centers. This gives the impression for the speaker that God is taking control of her body, and manifested in some unknown speeches.


- Ghost sighting is liked with infrasonic sound. Because the brain is not used to registering frequency so low (since it's not what is usually heard in normal situation,) it cannot associate such frequency to any object/definition, causing spooky feeling. The low frequency can also cause eyeballs to vibrate slightly due to resonance, and it might alter the vision for split seconds, creating ghostly images.

Wednesday, June 6, 2012

Theodicy

Di luar sedang hujan, seperti malam-malam sebelumnya di bulan Desember. Perlahan, ia membuka pintu katedral itu. Matanya menyiratkan kebimbangan, antara gentar dan geram, dan dia tidak tahu harus memilih yang mana. Ia melangkahkan kakinya masuk ke bilik pengakuan, sambil memegang erat pistol di balik jasnya, yang baru beberapa saat yang lalu memuntahkan maut. Lalu ia duduk. Terpekur. Dan dengan datar ia berkata kepada Pendeta di balik bilik itu, “Bapa, aku telah berdosa. Baik dalam pikiran dan perbuatan. Dan aku membunuh lagi malam ini.”

 ----------------------------------------------------------

 “Sudah lama sekali sejak aku terakhir datang ke gereja. Mungkin sudah tujuh tahun,” ia menggumam, “Ya. Sudah tujuh tahun.” Badan Pendeta bergetar. Tangannya dingin. Ia takut. Belum pernah sekalipun dalam sepanjang hidupnya, yang sudah ia serahkan kepada Tuhan, ia berbicara kepada seorang pembunuh. Dan dengan jarak yang hanya sepelemparan tangan, ia yakin bahwa hidupnya belum tentu aman. Meskipun dia punya Tuhan.

“Mengapa kau diam saja, Bapa?” Dan baru sesaat Pendeta berpikir untuk melarikan diri, dia mendengar suara dari balik bilik itu. “Kalau kau mencoba keluar, aku akan membunuhmu!” Kilatan dari badan pistol itu terpatri di matanya, dan untuk pertama kali, dia tidak pernah merasa sedekat ini dengan kematian.

“Apa maumu? Apakah kau ke sini untuk meminta pengampunanku? Engkau tentu tahu, bahwa membunuh adalah kejahatan yang paling keji di mata Tuhan. Kau tidak akan diampuni jika kau tidak benar-benar bertobat dari dosamu itu! Kau harus pergi ke polisi. Serahkan dirimu. Dan berdamailah dengan Tuhan!”

“Aku tidak ke sini untuk meminta pengampunan, Bapa. Aku ke sini untuk mengerti.”

“Apa yang ingin kau mengerti?”

“Tiga hari yang lalu, aku membunuh seseorang. Sebelum ia mati, ia meminta waktu padaku untuk berdoa. Dan aku mempersilahkannya.” Pendeta bergidik ngeri. Ia tidak sanggup membayangkan apa yang dialami orang itu. “Aku ingat benar, Bapa, dia mengucapkan ayat-ayat dari Kitab Mazmur. Kurasa Mazmur dua puluh tiga. Aku melihat damai memancar dari matanya. Damai yang belum pernah aku lihat sebelumnya.” Pembunuh itu menghela nafasnya. “Aku merasa, damai itu berasal dari iman. Katakan padaku, Bapa, bagaimana kau dapat beriman pada sesuatu yang tak dapat kau buktikan?”

“Kurasa… karena itulah ia disebut iman. Ia tidak perlu bukti.” Mata si Pembunuh memicing. Kelihatan benar ia tidak puas dengan jawaban Pendeta.

“Kau tahu, Bapa, bahwa iman yang kau ciptakan ini, hanyalah supaya kau merasa nyaman? Nyaman bahwa setelah kau mati jiwamu akan kekal. Nyaman bahwa hidupmu di dunia ini ada artinya. Bagaimana jika semuanya itu ilusi, Bapa? Bagaimana jika tidak ada neraka dan surga? Apakah kau masih beriman pada-Nya?”

“Aku tidak mengerti apa maumu bertanya seperti itu. Kau membunuh setidaknya dua orang! Sadarlah!”

“Oh, bahkan lebih dari itu, Bapa. Aku telah membunuh banyak orang. Dan akan bertambah lagi malam ini.”

“Tolong, berhentilah!” Si Pendeta mulai tidak sanggup lagi mendengarkan Pembunuh itu bercerita. Ada setetes air mata di sudut matanya.

“Nyawa manusia itu berharga di mata Tuhan. Kau tidak boleh sesuka hatimu menghilangkannya! Bertobatlah!’ kata Pendeta itu setengah memohon. “Yang benar saja, Bapa! Tuhan yang di surga membunuh lebih banyak orang daripada aku! Hitung saja! Sudah berapa nyawa yang mati karena nama-Nya?” Kata-kata si Pembunuh mencekik sanubari si Pendeta. Di dalam hati dia pun menyetujui. Bukankah memang sudah banyak darah tertumpah karena nama-Nya?

“Bapa, aku ingin mengerti, kenapa Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Tahu, mengijinkan manusia berbuat sekehendak hati mereka? Mengapa Dia tidak menghentikan kejahatan?”

“Tuhan memberikan manusia kehendak bebas, itu sebabnya.” Pendeta itu menjawab sekenanya. Dia pernah mendapatkan hal semacam ini di seminari sebelumnya. Hanya, ia tidak menyangka bahwa kelak dia harus diuji. Di tempat seperti ini. Dengan kondisi di mana dia setiap saat bisa mati.

“Hahaha… Enak sekali kau bicara seperti itu, Bapa.”

Pembunuh itu sesaat menatap pistol yang digenggamnya erat, kemudian melanjutkan, “Bukankah Tuhan ini Maha Kuasa, Bapa? Tidak bisakah Dia menciptakan dunia, di mana kejahatan hanya akan menyakiti orang yang melakukannya saja? Tidak perlu ada orang tak bersalah yang menderita. Tidak perlu ada orang tak berdosa yang kehilangan nyawa. Dunia di mana manusia tetap bisa belajar agar tidak melakukan kesalahan, dan bertobat ketika dia melakukan kesalahan. Dunia di mana kehendak bebas tetap ada, namun tidak perlu ada korban sia-sia.”

“Aku tidak mengerti kenapa kau malah mengajakku berfilosofi. Mari kita bicarakan saja, apa sebenarnya yang menyebabkanmu membunuh?” Si Pendeta sadar benar dia tidak bisa menjawab pertanyaan barusan, maka cepat-cepat dia mengalihkan pembicaraan.

“Ah. Aku pun sebenarnya tidak tahu, Bapa. Inilah aku. Inilah yang kulakukan. Seperti ini hidupku. Lagipula, tenang saja, Bapa, aku hanya membunuh mereka yang jahat dan pantas dibunuh.”

“Kau tidak berhak melakukannya!” sergah Pendeta, “Itu hak Tuhan!”

“Lucu sekali, Bapa. Aku pernah memohon pada Tuhan supaya seseorang ini mati dilaknat. Seseorang yang benar-benar jahat. Jahat di mata manusia, dan lebih-lebih di mata Tuhan. Dan dia tetap hidup, sampai kemudian aku turun tangan.”

“Aku tahu kenapa kau melakukannya. Kau ingin bertindak seperti Tuhan. Kau hanya ingin menunjukkan kekuatan. Hentikanlah semua itu!”

“Bapa, tidakkah kau kadang ingin agar seseorang mati?”

“Tidak… Tidak pernah sedikitpun…”

“Jangan bohong kau, Bapa! Atau kutembak kepalamu!” hardik Pembunuh sambil mengangkat pistol sejajar kepala Pendeta.

“Baiklah! Baiklah! Pernah ada seseorang yang sangat kubenci hingga aku ingin dia mati. Tapi… apa yang kulakukan tidak seperti yang kau lakukan. Pikiran bukanlah tindakan kejahatan!”

“Secara tidak langsung kau sudah berharap, Bapa. Dan harapan adalah doa. Kau berdoa supaya Tuhan mengambil sebuah nyawa.”

“Doa yang jahat tidak akan dikabulkan! Lagipula aku pun sudah memaafkan dia. Begitupun juga engkau. Siapapun yang membuatmu menjadi seperti ini, ampunilah dia! Jadilah orang baik dan lanjutkanlah hidupmu!”

Pembunuh menurunkan pistolnya, dan terkekeh.

“Maksudku… lihatlah, Bapa. Bukankah ada kegelapan di setiap hati kita? Kegelapan yang sama yang membuatku membunuh dan membuatmu berharap Tuhan yang membunuh? Apa bedanya…”

“Bedanya adalah aku tidak membunuhnya! Dan meskipun kegelapan ada di setiap hati kita, di situ juga terletak cahaya. Aku yakin di hatimu pun juga ada! Ampunilah mereka yang menyakitimu… Ampunilah…”

Pendeta itu menangis sambil memegang rosari. Tangisan yang sama yang dilakukan Yesus dulu di Taman Getsemani. Antara keraguan dan keyakinan. Antara ketakutan dan belas kasihan. Antara pasrah dan melawan.

“Menurutmu, apakah orang seperti itu layak dibiarkan hidup?”

“Pembalasan adalah hak-Nya… Nanti dia akan dihukum Tuhan di neraka. Sudah, biarkanlah….”

Si Pembunuh menundukkan wajahnya, ada keresahan di desah nafasnya.

“Kalau seperti itu, mengapa ada polisi dan pengadilan, Bapa?” Suaranya terdengar lebih perlahan. Lebih tenang dari sebelumnya. “Kalau semua kejahatan ini ada karena suatu tujuan yang hanya dimengerti oleh Tuhan. Kalau semua ini nantinya akan dibalaskan… Mengapa kita perlu mencegah kejahatan? Sekarang… di dunia ini?”

Si Pendeta tercekat. Baginya, tidak ada serangan iman yang lebih menusuk daripada ini. Bahkan dibandingkan godaan untuk mengambil uang persembahan di laci. Bahkan dibandingkan jemaat yang sering melayangkan senyum penuh arti.

“Sepertinya apapun yang kukatakan tidak akan mempan bagimu. Menurutmu itu semua adalah keadilan. Tapi… Tapi yang kulihat darimu… adalah seseorang yang kecanduan akan kekuatan. Pistol itu memberimu kuasa. Kuasa untuk menentukan hidupmu dan hidup orang lain. Kau tidak akan berhenti, karena tanpanya hidupmu tak berarti!”

“Jangan naïf, Bapa! Aku juga melihat hal yang sama di matamu. Mata yang kosong, bahkan ketika kau berbicara tentang Tuhan. Ada apa denganmu, Bapa? Ada apa dengan imanmu? Apakah kau sudah tidak percaya lagi? Apakah kependetaanmu ini semata-mata menunjukkan bahwa kau juga orang kuat? Bahwa kau tidak hanya sekedar orang tua, yang sebenarnya tanpa atribut keimananmu, salib, Alkitab, dan semua ini, tidak akan ada orang yang peduli?”

Seketika itu hancurlah hati Pendeta. Dia gagal membela dirinya. Dia gagal membela Tuhannya. Tak tahan lagi, dia mulai mengutuki dirinya sendiri. Bertahun-tahun menjadi pendeta, dia menyerah kalah. Kalah pada perkataan seorang pembunuh. Siapakah orang ini gerangan? Apakah dia setan? Atau jangan-jangan dia malaikat kematian?

 ----------------------------------------------------------

Sudah lima menit berlalu dari kata terakhir yang terucapkan. Di dalam bilik si Pembunuh terdengar sebuah isakan.

“Bapa, sebenarnya alasanku kemari adalah untuk membunuhmu.”

“Apa sebenarnya yang kuperbuat padamu? Aku bahkan tidak mengenalmu!” katanya setengah berteriak.

“Bapa, ingatkah engkau pada putra altar yang kau lecehkan tujuh tahun lalu? Itu aku. Apakah perlu kuceritakan kembali, apa saja yang sudah kau lakukan padaku?”

Pembunuh membuka sekat antar bilik, dan menempelkan pistolnya ke dahi Pendeta.

“Aku mohon, ampunilah aku! Aku sudah berubah… Aku sudah bertobat…”

“Tutup mulutmu, Bapa! Dan mulailah berdoa!”

“Tolong jangan bunuh aku! Apa yang dapat kulakukan untuk memperbaiki kesalahanku padamu. Katakan saja!”

“Bukankah aku sedang berbuat baik kepadamu? Membuatmu lebih cepat bertemu Tuhan yang kau puja-puja itu? Kalau kau yakin akan mendapatkan surga, Bapa, seharusnya kau tidak perlu takut pada kematian.”

Air matanya mengalir deras ke pipi. Mulutnya terkunci. Satu-satunya yang ia harapkan sekarang adalah bahwa semuanya ini hanyalah mimpi. Ia mulai melihat seluruh kehidupannya berputar di matanya bagai sebuah film. Tidak pernah menyangka, bahwa film ini nantinya akan berujung tragedi.

“Mulailah mohon ampun, Bapa. Apakah menurutmu Tuhan akan mengampuni apa yang kau perbuat kepadaku?”

“Kurasa.. iya… Ampunilah hamba-Mu ini ya Tuhan!”

“Bagus! Karena aku tidak akan pernah mengampunimu!”

 ----------------------------------------------------------

Sekali berbunyi, setelah itu sepi. Tubuh rentanya jatuh ke bumi, dengan darah yang mengucur deras dari lubang di dahi. Di tangannya, masih tergenggam sebuah rosari.



Di luar, hujan sudah berhenti.





* Theodicy, berasal dari kata dalam bahasa Yunani, theos, yang berarti Tuhan, dan dike, yang berarti keadilan, atau pembenaran.