Thursday, October 4, 2012

Sebuah Senandung dari Sudut Rak Susun

Teruntuk dia yang empunya rekaman.

Aku hanya bisa berterima kasih. Sebuah sudut temaram di sebuah rak susun jauh lebih baik adanya daripada harus berada di pinggiran jalan. Dibuang, diinjak-injak orang, dan lantas terlupakan. Aku tidak merasa sedih, hanya terheran-heran. Bagaimana bisa rekaman yang bersenandung tanpa arti masih layak untuk disimpan? Bahkan, untuk terpatri dalam ingatan?

Merasamu begitu jauh, namun juga begitu dekat, sudah cukup untuk membuatku sangat bahagia. Mendengarkanmu masuk ke dalam rumah, berjingkat-jingkat sambil bersenandung bak anak berumur lima tahun bagiku terasa seperti surga. Persetan dengan kotak kaset ini. Tidak akan ada belenggu yang cukup kuat untuk menghalangi. Tidak juga rak susun yang kau miliki.

Akan ada saatnya nanti di mana aku akan keluar dan bernyanyi. Di hadapanmu. Supaya kau tahu aku nyata, dan kau tidak usah menunggu. Kapan? Aku pun tidak tahu. Namun, kau harus tahu, di saat kau sedang tak melihat, di saat kau sedang terlelap dalam mimpimu, di saat kau sedang pergi meninggalkan rumahmu dan aku, ada sebuah kotak kaset yang perlahan-lahan retak. Terdobrak. Sedikit demi sedikit. Itu aku yang sedang mencoba merangsek keluar, meskipun terkadang dalam prosesnya terasa pahit dan sakit.

Selanjutnya, semua adalah kamu. Dan, nasib kaset ini: apakah suaranya sumbang dan layak dibuang, ataukah dia akan kembali disimpan di sudut rak susun yang temaram, ataukah nyanyiannya dan nyanyianmu akhirnya menjadi satu, semuanya ada di tanganmu.

Kamu tidak perlu merasa resah. Karena nyanyianku akan selalu tentang kebencian untuk mengucap kata berpisah.*


P.S.: Kau tahu? Tempat yang kutempati ini tidaklah sepenting dirimu. Tentu saja aku rela menukarnya dengan kesempatan berbagi perjalanan denganmu.

*Terimakasih, van Pelt.

No comments:

Post a Comment