Tuesday, October 2, 2012

Tentang Alasan

* Bukan untuk #Saujana. Lagipula, ini terlalu singkat untuk dibilang sebagai cerita. 10 menit dan begitu saja ia lahir. Seperti itu.

--------------------------------------------------------------------------------------------- 

Aku selalu benci dengan pertanyaan “mengapa”. Memangnya, buat apa segala sesuatu harus memiliki alasan? Aku pun tak tahu juga alasan mengapa aku memilihmu – dengan bodohnya. Aku bisa saja lari, pergi tak kembali. Tetapi hatiku tidak sanggup. Selalu tidak sanggup. Kau selalu saja menemukanku ketika aku sedang bersembunyi dari dunia ini. Kau selalu saja merobohkan tembok batu yang sengaja kususun untuk melindungi diri. Kau selalu saja menjadi badai yang menghempaskan perahuku kembali ke pulaumu lagi.

Namun, jika kau bersikeras menanyakan alasannya, sederhana. Karena dunia ini - kecuali dirimu tentu saja – sangatlah membosankan. Tidak signifikan. Kau berbeda. Kau memandangku dengan cara yang entah bagaimana bisa membuat diriku merasa seperti seorang pahlawan, dan di saat yang sama sanggup menjungkirbalikkan semestaku. Kau adalah narkotika sekaligus petaka bagi jiwaku. Dan, kau tak mencintaiku. Masokis, bukan?

Aku merasa aku tidak perlu bertanya tentang perasaanmu padaku. Aku sudah tahu jawabannya. Takdir sudah menentukan jawaban apa yang akan aku terima. Karenanya, aku tidak berani bertanya.
 
Lihatlah bintang jatuh itu, yang tidak pernah bertanya mengapa dia harus menyerah pada gravitasi, lalu terbakar, dan mati jatuh ke bumi. Dia tahu benar tentang takdirnya. Tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia tidak perlu diingatkan, bahwa sudah menjadi garis nasibnya kalau dia akan mati dan hancur berkeping-keping dalam perjalanan. Dalam langkahnya menuju kematian, ia hanya perlu menutup mata. Kalah, namun terpuaskan. Karena ia tahu, dalam kehancurannya, ada insan manusia yang berdoa. Yang bergandeng tangan sambil memandang langit dan menaruh harapan kepadanya.

Bukankah, hidup ini adalah sebuah lotere, yang menentukan siapa yang jadi bintang jatuh, dan siapa yang jadi manusia? Dan jika kali ini kau yang menjadi manusia, maka doakanlah agar si bintang jatuh ini tetap kuat dalam perjalanannya. Tidak perlu kau bertanya mengapa ia memilih menjadi bintang jatuh.




Karena hidup, dan begitu pula cinta, adalah sebuah lotere. Dan lotere, tentu saja tidak mempunyai alasan.

---------------------------------------------------------------------------------------------

Jika semua ini harus berakhir, akhirilah. Pergilah. Menghilanglah. Karena aku tak sanggup melakukannya. Aku hanya bisa berjanji bahwa dirimu tidak akan hilang dan terlupakan. Dan kelak, ketika jalan hidup kita bersimpang lagi, aku akan mendapatimu di dalam gelap - sekali lagi.

1 comment: