Monday, August 11, 2014

Tentang Cerita yang Belum Kuceritakan Kepadamu - Sebuah Review

Tragedi seringkali melahirkan karya-karya yang monumental. Dan, tidak ada yang lebih tragis dari kematian dan penderitaan manusia selain cinta yang tak berbalas. Dari Don Quixote - Dulcinea rekaan Cervantes, hingga Jay Gatsby - Daisy Buchanan dalam novel Fitzgerald, dari puisi epik Dante hingga sonata-sonata Shakespeare, cinta tak berbalas menjadi leitmotif karya seni dalam berbagai genre dan bentuk. Kali ini, seorang kawan saya yang berbakat, Gita Wiryawan, mendapat gilirannya memanggul salib melewati Via Melancholia, dan lantas menuliskan dysangelion-nya[1] yang ia beri judul "Tentang Cerita yang Belum Kuceritakan Kepadamu." Tulisan-tulisan ini Gita ini mulanya dimuat dalam blog pribadinya yang dia beri password. Baru kemudian karya epistolaris digital ini ia jadikan sebuah buku cetak yang didedikasikan untuk pujaan hatinya (mari kita tidak usah bahas siapa orangnya). Anda tidak akan menemui buku ini di toko buku manapun, karena di tata surya ini hanya ada 10 buah buku ini yang dicetak dan semuanya tidak dijual. Mungkin karena ini sebenarnya hanyalah curhatan yang dibukukan? Yang jelas, Gita melewatkan kesempatan menjadi idola remaja Indonesia masa kini seperti Alitt Susanto, Arief Muhammad, dan Raditya Dika. (Toh, salah satu syarat menjadi idola - dengan menjadi seorang mikroseleb di Twitter - kurang lebih sudah dipenuhi Gita).

 Gita membuka buku ini dengan tulisan di bagian sampul belakang: "Surealisme adalah hal yang paling logis yang bisa ditemui ketika orang berhadapan dengan cinta [...] kau terjatuh di dunia yang sama sekali tidak kau mengerti." Ketidakmengertian Gita dalam cinta yang serba tak logis dan paradoksikal ini menggemakan kembali ratapan Werther muda tentang Lotte dalam karya Goethe, katanya, “Kadang-kadang aku tidak mengerti bagaimana orang lain bisa mencintainya, dan boleh mencintainya, sedangkan aku pun juga mencintainya segenap jiwaku, begitu kuat, begitu penuh, tidak memahami apa-apa, tidak mengetahui apa-apa, dan tidak mempunyai apa-apa selain dia!" Orang yang mencinta secara dahsyat tentu pernah merasakan hal yang seperti ini, sebuah cinta yang melukai namun menciptakan adiksi. Kegagalannya menghasilkan kegetiran dan kemarahan yang serupa badai dalam bentuk mental dan emosional, meninggalkan manusia-manusia yang pecah dan remuk. Butuh usaha lebih bagi beberapa orang untuk bangkit dari bentuknya yang tinggal puing. Ada yang melakukan solo trip ribuan kilometer hanya untuk membangun kembali kota hatinya, ada juga yang menulis seperti Gita ini. Dan lewat buku ini Gita tidak sedang mencari permakluman (dan rasanya memang tidak perlu) terhadap kelakuan Sisifean ini, karena katanya (kepada si pujaan hati – mari kita sebut si Perempuan), "Tentu kau boleh menertawai golongan orang macam itu." Jika saja Werther muda mengenal Gita, mungkin ia akan berkata padanya, "Sind wir nicht alle Trunkene und Wahnsinnige?"[2]





Sebuah buku sekali tenggak, "Tentang Cerita..." hanya sepanjang 101 halaman terdiri atas 18 fragmen yang berbentuk mirip surat-surat tak terkirim. Tidak ada surat yang terlalu panjang, kebanyakan terdiri dari 4-5 paragraf berisi 4-5 kalimat yang ringkas pula. Bahkan ada satu entri (#5) yang hanya terdiri dari satu paragraf. Di bagian akhir buku ini, terdapat testimoni-testimoni dari teman-teman terdekat Gita yang kurang lebih mengetahui hubungan mereka berdua. Saya pun ikut menulis testimoni di situ (tetapi malah seperti tahi cicak kering di buku yang sudah lama tidak Anda baca: mengganggu).

Gita menulis buku ini dengan dengan konstruksi yang prosaik nan minimalis. Isinya berupa observasi momen-ke-momen seperti yang biasa Anda ceritakan pada kekasih lewat telepon. Dalam entri #2, misalnya, Gita bertutur tentang pekerjaannya dan uraian tugasnya yang baru di seksi yang baru, juga tentang kesialannya gara-gara seorang pegawai yang tidak teliti membuat dia harus mengerjakan ulang semuanya. Di entri selanjutnya, Gita berbicara tentang syukuran seorang pegawai temannya satu kantor atas kesembuhan anaknya yang baru saja keluar dari rumah sakit. Yang lain bercerita tentang arisan keluarga, perjalanannya ke Kuala Tungkal (beserta kondisi penempatan di daerah-daerah terpencil di luar Jawa), menonton film di mall, serta cerita tentang wayang, puisi Wiji Thukul, dan novel lama Murakami Haruki. Yang terpendek, #5, malah hampir-hampir puisi. Jika boleh saya beri enjambemen asal-asalan, maka ia akan terbaca seperti ini:

Pukul tiga pagi,
kurang sepuluh menit
Dan aku hanya ingin bilang bahwa
aku
merindukanmu.

Tak lupa, seperti biasa, ia menyelipkan kalimat-kalimat quotable khas Gita seperti, “Ingatan bisa dimanipulasi. Rekam jejak tidak” atau “Melihatmu di masa kini adalah mengekalkan sebuah kesedihan.” 

Pada paragraf-paragraf akhir fragmennya Gita dengan halus memutar kisah kehidupannya sehari-hari menjadi sebuah quasi-monolog yang gelisah, murung, dan penuh frustasi. Seperti pantun, setiap fragmennya mempunyai “sampiran” berupa cerita-cerita yang banal. Wajah adik-adik kelasnya yang muram karena meninggalkan keluarga demi bekerja di tempat yang jauh menjadi ilustrasi kemuramannya yang ditinggalkan oleh si Perempuan. Membaca buku Murakami menjadi ilustrasi tentang buku, sebagai sebuah analogi kehidupan: sesuatu yang punya akhir, sesuatu yang bisa dilanjutkan dengan buku (baca: kehidupan) yang baru. Gita seperti membuat lukisan realis alih-alih - seperti yang diklaimnya sendiri - surealis. Tidak dalam simbolisme yang kabur, namun dalam jelujuran narasi yang remeh-temeh.

Yang menarik, Gita pun menggunakan tulisannya sebagai wadah untuk menggugat modernitas dan ekses negatifnya. Misal ketika dia sedang menginap di hotel ber-AC, dan lantas mengingat masih ada orang yang tidak berpunya. Atau saat ia tertampar oleh puisi Wiji Thukul tentang keegoisan yang tersirat dari kebiasaan bibliofilik yang ia punyai. Bahkan dalam satu fragmen, kamerad Gita mengajak Si Perempuan untuk ikut berpikir sejenak mengenai kondisi tanah di Jambi yang menjadi gersang karena dioverekspoitasi oleh petani kelapa sawit, “Untuk kasus ini, menurutmu siapa yang benar-benar peduli? Pemerintah yang kerjaannya hanya berebut kekuasaan? Perusahaan yang hanya memikirkan soal cara memperoleh uang sebanyak-banyaknya? Atau penduduk yang bermodal kecil dan minim edukasi?” Mirip sekali dengan kader muda sebuah partai kiri yang sedang mengajak pacarnya diskusi. Sayangnya bagi Gita, ajakan diskusi ini nampaknya hanya memantul ke tembok.

Gita Wiryawan bisa dibilang adalah orang yang secara tidak langsung mengajari saya menulis. Saya tentu sudah memperhatikan tulisan-tulisan dia sejak lama, dan bagi saya buku semi-otobiografikal ini memberi kesan ketergesaan dalam penggarapannya. Kata-katanya tidak setajam tulisan-tulisan dia di blog. Pemilihan diksi khas Gita juga tampil sangat minimal, dan seandainya tidak ada sama sekali, maka membaca buku ini seperti membaca buku diari seorang anak SMA atau buku Raditya Dika. [3] Bukan salah Gita tentu saja. Saya lebih-lebih tidak mungkin menyalahkan editornya, Prima Sulistya, yang adalah salah satu editor muda par excellence dan paling cermat di negeri ini. Mungkin gaya penulisan curhat seperti ini bukanlah gaya yang bisa mengeluarkan potensi menulis Gita secara penuh.

Sesenang-senangnya saya mendapatkan buku gratis, apalagi tulisan seorang kawan sendiri, tentu saya berharap yang terbaik baginya. Ya, saya berharap tidak akan muncul sekuel "Tentang Cerita yang Belum Kuceritakan Kepadamu". Juga semoga tidak akan muncul perempuan-perempuan yang menghancurkan hati Gita Wiryawan di masa depan. Tak peduli kata Nuran Wibisono, seorang pengamat musik kawakan Indonesia, bahwa “Kesedihan adalah sesuatu yang seksi.” Tak peduli darinya lahir beribu paragraf dan bait puisi.

I wish you way more than luck for your future endeavors, Gita.


***


[1] Lawan kata dari euangelion yang berarti kabar baik (eu- berarti baik). Secara literal dysangelion berarti kabar buruk.

[2] "Bukankah kita semua pemabuk dan orang gila?"

[3] Sang penulis, Gita Wiryawan, pun menertawakan bukunya sendiri ketika kami bertemu dan minum-minum Jumat malam lalu di sebuah bar di daerah Kebon Sirih, Jakarta.

Friday, June 6, 2014

Seperti Dendam: Sebuah Resensi





I.
Telah satu dekade berlalu sejak terbitnya “Lelaki Harimau” dan dicetak ulangnya karya seminal Eka “Cantik Itu Luka”. Selama itu pula Eka Kurniawan tertidur dari jagad kepenulisan novel (mirip dengan penis Ajo Kawir!). Dalam entri di blog pribadinya tanggal 30 Maret 2008, Eka mengungkapkan bahwa dia sudah menyetor naskah berjudul “Malam Seribu Bulan” kepada penerbit. Sayang novel yang ditunggu tak juga muncul. Baru 6 tahun kemudian, Eka bangun dengan novel “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.” Entah ini naskah “Malam Seribu Bulan” yang disunting secara drastis, atau merupakan setoran naskah yang benar-benar baru, saya kurang tahu. Mengingat isinya yang lebih tentang penis daripada tentang bulan, rasa-rasanya ini adalah naskah baru. Semoga saja, “Malam Seribu Bulan” diterbitkan setelah ini.

II.
It's only after you've lost everything that you're free to do anything”, demikian kata Tyler Durden dalam buku ikonik Chuck Palahniuk, “Fight Club”. Demikian pula yang mungkin menjadi kredo Ajo Kawir setelah ia tidak mampu lagi ereksi: “Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati.”

Menjadi impoten adalah menjadi pria yang kehilangan segala-galanya dalam dunia kecil rekaan Eka Kurniawan yang memuja maskulinitas ini. Keperkasaan genital dan kekerasan adalah norma. Tak hanya Ajo Kawir yang risau, temannya, Si Tokek, pun terus menyalahkan dirinya sendiri atas tidurnya burung Ajo Kawir.

Pada suatu malam dulu ketika mereka masih remaja, Tokek mengajak Ajo Kawir untuk mengintip tetangganya, Rona Merah, seorang janda yang gila karena melihat suaminya dibunuh di depan mata kepalanya sendiri. Ketakwarasan Rona Merah membuatnya tak peduli lagi terhadap rasa malu, dan nahasnya ini dimanfaatkan oleh dua bocah ini sebagai objek voyeur mereka ketika ia mandi. Sedianya cuma itu yang akan mereka lakukan: mengintip, merancap, lalu pulang. Namun, pada malam itu, datanglah dua orang polisi bejat memerkosa Rona Merah. Si Tokek mengajak Ajo Kawir kabur, tapi Ajo Kawir ketahuan, sementara Si Tokek berhasil sembunyi. Ajo Kawir ditangkap, dan lantas digelandang masuk oleh dua polisi tersebut dan dipaksa untuk menyetubuhi Rona Merah. Ajo Kawir begitu takut, syok, dan jijik sampai burungnya tidak bisa berdiri. Ia dipermalukan oleh kedua polisi itu dan merasa tak berdaya. Maka, malam pertama kalinya Ajo Kawir mengintip Rona Merah menjadi malam terakhir burungnya bisa ngaceng.

Sudah banyak usaha (yang kadang kala masokis) yang dilakukan Ajo Kawir agar Si Burung bangun. Pernah coba dibangunkan dengan cabe, namun si Burung tetap terlelap sementara Ajo Kawir sendiri pontang-panting karena selangkangannya serasa dibakar. Kali lain, Ajo Kawir mencoba menyengatnya dengan lebah, terinspirasi dari sebuah terapi alternatif. Burung bengkak, namun bangun pun tidak. Tak hanya ia yang menderita dimakan obsesi. Si Tokek dan ayahnya, Iwan Angsa, yang sudah menganggap Ajo Kawir sebagai anaknya sendiri pun ikut dibikin frustasi. Pernah suatu hari Iwan Angsa memberi Ajo Kawir buku-buku cerita stensil, berharap burungnya bisa terangsang. Namun, Ajo Kawir hanya membacanya tanpa merasa apa-apa pada burungnya. Bahkan, seorang pelacur pinggir rel kereta yang disewakan Iwan Angsa demi Ajo Kawir pun angkat tangan. “Tak ada yang lebih menghinakan pelacur kecuali burung yang tak bisa berdiri”, katanya. Pada suatu saat Ajo Kawir sudah tak tahan lagi. Si Burung nyaris saja terpenggal jika saja tak dicegah Si Tokek. “Kalau sekarang bisa berdiri, memangnya mau kamu pakai untuk siapa?”, demikian rasionalisasi si Tokek. Ajo Kawir pun manut saja.

Tumbuh tanpa merasakan libido membuat Ajo Kawir mengalihkan gejolak masa mudanya dengan berkelahi. Ia menantang siapa saja. Modalnya cuma nyali dan tubuh yang tahan banting, karena ia tak jago-jago amat berkelahi. Sering ia pulang dengan badan yang babak belur, hanya untuk dirawat Iwan Angsa, sembuh, kemudian lanjut mencari gara-gara. Suatu ketika, ia dihajar oleh anggota geng Tangan Kosong, seorang wanita jago berkelahi bernama Iteung. Mereka berdua berkelahi sampai sama-sama ambruk di tanah, dan Ajo Kawir mendapati dirinya jatuh cinta dengan Iteung. Iteung pun cinta dengan Ajo Kawir meskipun ia tak bisa memuaskannya pakai alat kelamin. Mereka lalu menikah. Namun kemudian Iteung hamil dengan entah siapa. Ajo Kawir murka (bagaimana bisa menghamili jika tak burungnya saja tidak bisa ereksi?). Ia lalu pergi ke Jakarta, menjadi supir truk-cum-pacifist yang berlandaskan suara dari kelaminnya.

III.
Jika dibaca seklias, kita bisa menuduh Eka Kurniawan sebagai seorang seksis. Akan tetapi, “Seperti Dendam…” adalah parodi tentang potret masyarakat yang didasari machismo dan phallocentrisme yang eksesif. Sebuah hidup di mana laki-laki dan perempuan sama-sama menderita karenanya. Menjadi laki-laki berarti berani untuk menjadi brutal, dan punya penis yang berfungsi (kalau bisa, besar pula). Pria-pria seperti Ajo Kawir (yang impoten dan lantas menjadi pacifist) dan Mono Ompong (kenek Ajo Kawir, yang takut berkelahi dengan Si Kumbang) mesti menderita lahir batin di bawah tuntutan untuk menunjukkan kekuatan. Ajo Kawir menyadari betapa dahsyatnya kemaluan yang “bisa menggerakkan orang dengan biadab” dan ”seringkali lebih banyak mengatur kita daripada yang bisa dilakukan kepala”. Kehilangan ereksi  menceraikan Ajo Kawir dari hal yang membuatnya “laki-laki”. Ia terasing dari dirinya sendiri.

Nasib perempuan di “Seperti Dendam…” malah lebih mengenaskan. Mereka direlegasi menjadi masyarakat kelas tiga (masyarakat kelas dua dalam hirarkinya adalah laki-laki “gagal” seperti Ajo Kawir ini). Kita melihat bagaimana Rona Merah diperkosa dua polisi, juga Si Iteung yang diperkosa di ruang kelas oleh gurunya, Pak Toto, ketika dia masih SD. Vagina menjadi barang komoditas seperti beras. Pelecehan adalah hal yang lumrah. Kelamin dijual bahkan ketika mereka masih bocah. Menjadi wanita berarti menerima nasib untuk suatu saat harus mengangkang demi membayar sewa (seperti tokoh Janda Muda) juga untuk menyambung hidup, seperti pelacur-pelacur (termasuk Nina, wanita yang ditaksir oleh Mono Ompong) dalam novel ini. Wanita harus seperti laki-laki agar dianggap setara, setidaknya begitulah yang dilakukan Iteung dengan cara ikut latihan bela diri. Novel ini adalah tamparan bagi kita (terutama lelaki) yang tidak pernah menyadari bahwa kita hidup dalam masyarakat yang patriarkis-kiriarkis.

Meminjam penjelasan Guattari dan Deleuze, masyarakat adalah perwujudan sebuah organisme yang hirarkis. Semua orang menjadi bagian dalam infrastrukturnya lewat ketergantungan satu sama lain dan ini sering kali memenjara kita dalam ketidakpuasan. Ketidakpuasan (“lack”) ini, entah bersifat libido (Freudian), maupun berbentuk neurosis ketika melihat sebuah struktur sosial yang tidak adil (Marxian) mewujud menjadi sebuah hasrat. Dalam perspektif Deleuzian, Ajo Kawir dan penisnya adalah sebuah gambaran proses skizofrenik yang membebaskan. Alih-alih menjadi “id”, penis Ajo Kawir menjadi sebuah “superego” yang memiliki sebuah “potensi untuk revolusi”. Dalam keterasingannya dari organisasi bernama “laki-laki”, Si Burung justru mencekoki Ajo Kawir sebuah pemikiran subversif antikekerasan. Meskipun Ajo Kawir gagal “menginisiasi politik radikal tentang hasrat yang bebas dari semua akidah“, setidaknya ia berhasil membebaskan dirinya sendiri. Di akhir masa mudanya, Ajo Kawir menjadi seorang absurdist Camusian. Ia mencoba berontak terhadap konstruk sosial yang destruktif ini. Baginya, impotennya Si Burung menjadi sebuah berkah. Si Burung malah menjadi sebuah voice of reason. Ia menyambutnya dengan gembira seperti Sisifus menyambut hukumannya. Bak seorang sufi, ia menjadi orang yang lebih damai, yang lebih arif dan tenang ketika mendengarkan burungnya yang terlelap. 

IV.
Jika “Cantik Itu Luka” berlatar Indonesia pascakolonialisme - pascakomunisme, maka “Seperti Dendam…” berlatar pada era Soeharto. Seperti pada beberapa karya realisme-sosial milik Agus Noor dan Seno Gumira Ajidarma, membaca “Seperti Dendam…” adalah membaca masyarakat di mana ketakutan menjadi sebuah alat kekuasaan. Anak-anak kecil ditakuti dengan komik Siksa Neraka. Para preman ditakuti dengan penembakan misterius. Para wanita ditakuti dengan kekerasan dan perkosaan. Gambaran aparat keamanan dibikin satir oleh Eka Kurniawan, seperti polisi yang amoral, juga tentara yang gemar mengadu rakyat dalam sebuah arena perkelahian. Bukankah tentara yang menjadikan tahanan, orang Timor Leste, Aceh, dan juga komunis seperti ayam aduan di cerita ini adalah satirisasi fenomena banality of evil yang sering terjadi pada konflik-konflik di Indonesia? Generasi tahun 80-90 an tentu bisa mengasosiasikan novel ini dengan kejadian-kejadian pada masa mereka.
Dalam novelnya kali ini, Eka mencoba lebih realis  daripada novel-novel sebelumnya yang berbumbu magis (magical realism) a la Jorge Luis Borges atau Gabriel Garcia Marquez. Ada elemen yang hampir sama di novel ini dengan “Cantik Itu Luka”. Misalnya, tokoh semi-mafioso Paman Gembul mengingatkan kita kepada Mama Kalong si mucikari. Munculnya Jelita sebagai perwujudan hal-hal yang belum selesai juga mirip dengan munculnya hantu komunis pada “Cantik Itu Luka”. Seperti “Cantik Itu Luka” pula, penceritaan yang grotesk, kontradiktif, dan absurd terdapat pula dalam novel ini. Tokoh Jelita, kenek baru Ajo Kawir, mengingatkan kita pada Cantik (ironisnya keduanya berwajah buruk rupa). Cantik dan Jelita sama-sama merupakan paradoks bagi laki-laki. Cantik bisa membuat Krisan jatuh cinta tanpa perlu takut kehilangan, sedangkan Jelita bisa membangunkan kemaluan Ajo Kawir yang sudah berhibernasi begitu lama, yang gagal dibangunkan oleh wanita-wanita sebelum dia. Mungkin bedanya adalah ketiadaan tokoh seperti Dewi Ayu (yang menurut saya merupakan pastiche Nyai Ontosoroh-nya Pram), karena rupanya Iteung malah direduksi jadi tokoh yang haus seks dari lelaki yang bisa ereksi.

Novel ini begitu singkat, dan tidak membutuhkan waktu lama untuk membacanya. Lengkap dengan deadpan jokes, dark humor, montase alur maju mundur yang lincah, paragraf yang pendek-pendek, serta cerita tentang pembalasan dendam, ia mengingatkan saya pada film Quentin Tarantino tahun 1994, “Pulp Fiction”. “Seperti Dendam…” juga ditulis dengan stilistik a la novel stensilan namun masih terasa estetis. Sumpah serapah serta bahasa yang profan nan vulgar yang dipakai Eka sangat khas dengan – maafkan stereotip ini – kaum-kaum pinggiran seperti supir truk dan pelacur. Ia memotret seksualitas yang tak melulu diglorifikasi seperti karya Ayu Utami atau Djenar Maesa Ayu. Jika Ayu Utami dan Djenar melihat seks dari kacamata kaum urban, dengan latar kafe, hotel, dan glamornya perkotaan, Eka melihat seks dari kacamata orang yang secara sosioekonomi di bawah rata-rata.  Alih-alih dirayakan, justru malah sebaliknya, seks di sini adalah salah satu sumber masalah yang begitu kuat sehingga orang-orang di dalamnya menjadi fatalistik karena tak kuasa melawan. Kalah, bagai burung Ajo Kawir yang tumbang sampai entah kapan.

Wednesday, March 26, 2014

Balada Si Babon

Ini cerita tentang temanku, seorang anak tumenggung dari kerajaan di nun jauh sana dengan banyak pulau. Dia mengirimiku berlembar-lembar kertas tentang kisah hidupnya, tulisnya, “Biar ada yang ingat nanti kalau aku mampus.”

Terhadap cerita ini, tentu kau bisa berinterpretasi sesuka hatimu. Namun ingatlah, ini cerita terjadi di kerajaan di nun jauh di sana dengan banyak pulau (mari kita sebut saja kerajaan ini dengan Kerajaan Insularia), yang entah betul-betul terjadi atau hanyalah fantasi temanku semata. Aku tidak bisa memastikan. Yang aku tahu selama ini dia orang yang selalu berkata jujur. Dan ujarnya, “Ya seperti inilah.”

Kawanku ini (mari kita beri nama Babon saja untuk menjaga anonimitas) bekerja sebagai pengumpul upeti rakyat, sebuah pekerjaan yang sangat membosankan "seakan duduk di padepokan dan mendengarkan sepuluh jam kotbah yang sama terus menerus.” Begitu membosankannya hingga katanya sempat ada salah satu anak yang berpikir, bahwa mencuri dari warga dan babak belur dihajar setelahnya adalah sesuatu yang lebih baik. Kuingat rambut Babon yang kusut masai, serta kantung hitam di bawah matanya saat terakhir kami bertemu, dan, ya, mungkin saja.

Ia diangkat menjadi anak oleh sang tumenggung perupetian (jabatan resminya adalah Tumenggung Exchequer, dibaca: es ceker) Kerajaan Insularia sejak dua tahun lalu. Dia bersama tiga puluh satu anak yang lain dipekerjakan untuk memungut upeti dari rakyat di seluruh wilayah Insularia. Yang aku dengar dari orang lain, tumenggung ini (mari tidak usah sebut nama) bolak-balik hanya ingin menambah anak saja. Tumenggung Es Ceker rupanya ingin kerajaan Insula memiliki banyak petugas upeti seperti kerajaan Prussia di barat sana. Apa lagi yang mau ditarik dari rakyat kerajaan Insula yang rata-rata miskin, digerus utang, dan masih ditampar dengan hasil panenan dan tangkapan ikan yang sedikit? Entahlah. Mungkin sang Tumenggung punya pendapat lain. Mungkin saja rakyat kerajaan Insularia sebentar lagi menjadi seperti rakyat kerajaan Prussia yang kaya, yang penuh dengan juragan-juragan empunya pabrik dan saudagar-saudagar penyedia jasa yang kaya raya.

Tumenggung Es Ceker sendiri memiliki atasan langsung seorang Patih yang khusus mengurusi tetek-bengek masalah keuangan kerajaan, mulai dari upeti, bank kerajaan, ekspor-impor barang dari negara dan kerajaan lain, utang kerajaan, dan sebagainya. Mengenai Patih ini (mari kita sebut saja Patih Keuangan, atau Patih K), aku lumayan tahu banyak.

Sebagai seorang peneliti tentang ekonomi, tentu figur Patih K tidak luput dari perhatianku. Dirinya yang muncul sebagai pengganti dua patih sebelumnya yang didepak raja Insularia, adalah pribadi yang unik. Bagaimana tidak? Beliau sendiri pernah belajar langsung kepada mahaguru ekonomi dari India bernama Ammar Zein. Mungkin kau tidak tahu siapa Ammar Zein itu, tapi di kalangan kami beliau sangat hebat.

Ammar Zein adalah pandita kelas wahid yang menulis tentang kemiskinan dan kelaparan. Tulisannya sering menjadi acuan terhadap kebijakan negara dan kerajaan lain di dunia. Oleh karena tulisannya itu, beliau dianugerahi sebuah gelar. Gelar yang begitu agung sampai aku sendiri sebagai sesama penelaah ekonomi hanya bisa bermimpi untuk membayangkannya. Oh, bahkan bermimpi saja aku tidak berani.

Omong-omong, bagaimanakah lantas kebijakan ekonomi kerajaan Insularia sejak diurusi oleh Patih K? Apakah lantas beliau menerapkan ajaran mahaguru Zein tentang “redistribusi”, “infrastruktur sosial”, dan “pengurangan kesenjangan”? Menurutku tidak. Inilah yang membuatnya unik.

Dulu Patih K ini sering menulis tentang kemiskinan sebelum jadi patih. Lambat laun, dia berubah menjadi seorang libertarian. Apa itu libertarian, mungkin begitu tanyamu. Gampangnya, jadi libertarian itu jadi kebalikannya apa yang diajarkan oleh mahaguru Zein. Alias masa bodoh saja dengan kesenjangan, yang penting bisnis bisa enak keluar masuk di sini. Saudagar asing senang. Patih senang. Rakyat biarkanlah berjuang sendiri. Begitu kira-kira. Namun apalah arti pendapatku si peneliti bodoh ini.

Aku pernah bertemu dengan Patih K ini sekali. Waktu itu aku mendampingi menteri keuangan negaraku dalam kunjungannya ke kerajaan Insularia. Aku mengobrol dengannya setelah makan siang. Seingatku, dulu seperti ini:

“Pak Patih, dengar-dengar Anda mau menaikkan pajak untuk kereta kencana mewah sampai 125% ya? Boleh tau kenapa?”

“Oooh, tentu itu. Kau tahu, para saudagar dari negara dan kerajaan lain ingin berinvestasi ke Insularia. Sayang sekali neraca keuangan Insularia sedang jelek.”

“Jadi, untuk menekan impor agar neraca keuangan Insularia agak berimbang?”

“Betul.”

“Memangnya seberapa signifikan kereta kuda mewah yang masuk di Insularia?”

“Lho, yang penting itu gestur. Portofolio kita di mata asing! Kamu ini naif sekali.”

“Oh, begitu ya, Pak. Mohon maaf.”

“Iya. Tidak apa-apa.”

“Boleh saya tanya lagi?”

“Silakan.”

“Suku bunga Bank Insularia tinggi sekali, Pak. Kalau secara ekonomi, sudah terlalu hawkish. Bapak tidak coba ngomong ke Patih Bank Insularia agar menekan suku bunga?”

“Lho, buat apa? Suku bunga tinggi itu bikin surat utang kerajaan jadi kelihatan seksi. Bagus yield-nya.”

“Tapi, bagaimana dengan orang miskin yang mau utang beli rumah? Atau rakyat yang mau utang ke bank biar punya modal untuk usaha?”

“Eeeh, saya sudah dipanggil raja. Nanti saja kita lanjutkan.”

Namun siang itu dia tidak menemuiku lagi. Padahal aku sendiri masih punya beberapa pertanyaan kepadanya. Misalnya, bagaimana uang yang masuk dari para saudagar asing hanya dua per seratus dari total produk domestik bruto kerajaan Insularia menjadi fokus kebijakan. Atau bagaimana cara dia untuk mencegah uang panas dari para saudagar asing, karena dengar-dengar uang yang dikirimkan saudagar asing kembali ke negaranya masing-masing sedianya akan dibebaskan dari upeti.

Susah memang jadi rakyat Insularia.

Babon sendiri tidak pernah mengobrol dengan atasan dari ayahnya itu. Dia saja jarang mengobrol dengan ayahnya. Tumenggung Es Ceker memang terkenal galak.

“Apalagi sejak dia dengar kabar burung tentang dirinya dan si penari kerajaan namanya anu. Bayangkan saja, semua anaknya sampai disurati supaya jangan terpengaruh dengan kabar burung sialan itu,” begitu tulisnya.

“Beberapa anak sudah mulai sebal kepada ayah. Ayah sendiri seakan-akan lebih menyukai beberapa anak dibandingkan dengan anak-anak lain, begitu kata beberapa saudara seayahku. Ingin rasanya diusir dari rumah dan balik di jalanan saja. Sudah tidak betah. Muak. Ada sesama anak-anak ayah yang sampai berkelahi karenanya.“

Kalau dipikir, aneh juga masih banyak yang ingin diangkat menjadi anak oleh si Tumenggung Es Ceker. Apakah mereka tidak pernah mendengar kisah Babon dan saudara-saudaranya yang lain?

“Anak-anak lain, mencoba menulis di surat, selebaran, di tembok, di kuesioner resmi kerajaan, di punggung sapi, bahkan di punggungnya sendiri tentang bagaimana susahnya kerja pada ayah. Ayah sendiri tidak mau tahu. Bahkan ketika rakyat sudah mulai enggan membayar upeti. Siapa lagi yang membujuk warga? Siapa? Kami! Siapa yang susah payah menarik upeti, bahkan ketika hari libur kerajaan? Kami! SIAPA YANG SUSAH PAYAH MENEROBOS HUTAN, ATAU MENYEBERANGI LAUTAN DI TEMPAT TERPENCIL DEMI KERAJAAN? KAMI!”

Begitu marahnya Babon sampai-sampai dia menulis dengan huruf besar semua.

Akan tetapi, menurutku ini yang paling mengenaskan: “Kau tahu tidak, sudah hampir sewindu uang saku yang diberikan ayahku tidak pernah naik jumlahnya. Ini kata kakak-kakakku sih. Padahal beras makin naik harganya. Tiap kali aku mendengar si saudagar anu, atau si saudagar itu bisa membayar pegawainya yang mencari duit buat usahanya lebih tinggi dari yang diberikan ayah, kupingku terbakar rasanya. Kampret! Aku dan kakak-kakakku ini mencari uang demi seluruh kerajaan! Tapi apa? Dapat apa? Bocah kemarin sore yang baru masuk jadi pegawai seorang juragan di depan kantorku saja bayarannya dua kali lipat dari yang diberikan ayahku! Kampret!”

Begitulah kisah si Babon dari kerajaan Insularia. Sebenarnya masih banyak kisah lain yang ingin kuceritakan kepadamu karena surat si Babon ini memang panjang benar. Mengapa tidak memberontak saja, atau membikin revolusi, begitu mungkin kau penasaran. Aku pun juga pernah menanyakan itu dalam surat balasanku ke Babon. Lalu apa katanya?

“Aku takut sama istri pertama ayah. Rupanya dia tahu. Anak-anak yang baru menulis surat ungkapan tidak puas saja sudah dipanggili satu per satu olehnya. Mungkin ini jadi suratku yang terakhir untukmu.”

Baru belakangan ini saja aku tahu nama istri pertama si Tumenggung Es Ceker. Sayangnya, aku sudah lupa siapa. Mungkin Kitara, atau Kirana, atau… Kit… ah. Aku lupa. Bahan penelitianku membuatku gampang lupa akhir-akhir ini.

Namun satu yang tidak akan kulupa, yaitu bagaimana kisah si Babon ini. Menyedihkan.

Sunday, January 19, 2014

Selamat Menjadi Satu, Birokreasi

Seperti tulisan-tulisan mengenai refleksi lainnya, saya akan mengawali ini dengan sebuah frasa: "Quo vadis?"

Quo vadis. Mau ke mana?

Sudah hampir setahun gerakan literasi kecil-kecilan kami, Birokreasi, berdiri. Meskipun saya bukanlah penggagas awalnya, saya menyaksikan sendiri proyek ini, mulai dari embrionya yang diberi nama "Saujana", hingga #7HariMenulis, sampai akhirnya ia dilahirkan menjadi bayi milik kami bersama dalam situs birokreasi.com. Anda bisa melihat sejarahnya secara lebih lengkap di laman blog Gita Wiryawan ini.

Saya tidak ingat benar bagaimana saya bergabung. Seingat saya, dulu ketika masih menjadi pegawai magang bergaji lebih rendah daripada gaji satpam, Gita mengontak saya lewat Google Chat. Dia mengajak saya untuk bergabung ke sebuah proyek menulis, entah zine, entah apa. Yang jelas, kala itu, yang muncul di benak saya hanya pikiran, "Asik, asik, mau bikin politburo!" Maafkan saya. Dulu gairah kekirian saya masih meluap-luap.

Beberapa waktu dan obrolan berselang, barulah saya tahu apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Gita. Gerakan yang akhirnya diberi nama Birokreasi ini dimaksudkan sebagai sebuah antitesis terhadap stereotip pegawai negeri yang kaku, yang tidak nyeni, yang tahunya cuma uang dan angka. Birokreasi ada sebagai suaka yang menampung entah tulisan pujaan kepada gebetan, entah keluh kesah terhadap institusi negara.

Adalah halangan geografis - yang sebenarnya tidak menjadi masalah seandainya saja gaji kita tiga kali lipat daripada gaji sekarang - yang menjadi kendala kami untuk membahas semuanya secara komprehensif. Waktu itu bahkan saya harus mlipir saat diklat prajabatan demi bertemu Heru Irfanto untuk membahas ide-ide yang saya punyai (yang dibantu banyak oleh Margaretha Nitha). Kemudian ketika pertama kali penempatan di Jakarta, di kosan Fanny Perdhana sebelum dia pindah, untuk membahas format web. Barulah ketika kami kumpul bersama saat DTSD, kami benar-benar utuh dan tak terpisah-pisah. Proyek dongeng anak #KudaBesi pun lahir dari situ.

Banyak yang kami korbankan, sebelum akhirnya bayi kami ini mewujud. Bahkan, dulu, saya sempat berpesan kepada Nitha, "Kalaupun saya pergi dari kehidupan kamu, tolong tetap bantu teman-teman Birokreasi ya." Ah, lucunya kalau saya mengingat semua ini.

Lalu, quo vadis?

Menyitir tulisan Gita, 

"Tetapi sampai detik ini apa yang dilakukan oleh Birokreasi hanyalah sebatas hal-hal remeh, juga tak cukup beranjak dari masa setahun lampau. [...] Barangkali Birokreasi hari ini perlu melakukan refleksi kembali mengenai visi dan misinya. Apakah kami mengetahui tentang dunia literasi? Apakah kami cukup berkompeten untuk mengusung label sastra yang demikian berat?"

Sayangnya, Gita mungkin memimpikan Birokreasi sebagai JakartaBeat versi birokrat. Karena argumen "hal-hal remeh" tidak pernah disubstansiasi. Apa itu hal remeh? Mengapa hal-hal tersebut dianggap remeh? Apakah membuat antologi dongeng secara swadaya juga bisa dianggap remeh? 

Saya sendiri tidak nyaman jika harus membawa Birokreasi ke ranah hipsterdom atau snobism. Apakah menulis dengan gaya a la Goenawan Mohamad itu kriteria wajib seseorang dalam menulis sastra? Apakah menulis resensi tentang buku-buku babon, atau menelaah tentang kitsch itu adalah sesahih-sahihnya gerakan literasi?

Tentu tidak. Bahkan penulis seperti Alice Munro yang tulisannya tidak sekompleks tulisan James Joyce saja bisa memenangkan hadiah Nobel.

Saya akan berangkat pada hal yang tidak muluk-muluk: kontributor yang masih itu-itu saja. Sesuatu yang beberapa kali membuat kami pusing karena kurangnya tulisan, sementara kami sendiri juga sedang disibukkan pekerjaan. Barangkali, content management dan social media management jawabannya. Sebenarnya, mau mempertahankan imej eksklusif PNS pun tak jadi masalah. Banyak PNS yang mempunyai tulisan di blog masing-masing, atau notes di Facebook, tetapi belum berhasil kami persuasi untuk menyumbangkan tulisan. Mungkin ini yang seharusnya dibenahi. Dengan Birokreasi yang belum terlalu sastrawi saja, beberapa orang sudah takut untuk menyumbangkan tulisannya.

Meskipun begitu, tetap menjadi harapan saya bahwa Birokreasi akan selalu berkembang, baik dalam segi kuantitas maupun kualitas tulisan. Saya sendiri memimpikan Birokreasi yang lebih berwarna-warni, seperti obrolan warung kopi. Anda bisa membahas tentang gebetan, juga telaah kritis terhadap teologi. Sama seperti yang saya lakukan ketika semester akhir kuliah dulu di sebuah warung kopi daerah Pondok Jaya.

Selamat menjadi satu, Birokreasi! Semoga kamu menjadi suaka yang nyaman bagi kami semua untuk lari dari hiruk-pikuk birokrasi! :"3

Monday, December 30, 2013

For N

Dear N,

Of this morning I already scoured my thoughts, evoking images of your laughter and smiles, on the snowless nights of late December. I have been thinking about you in these minutes, without cessation, as pieces of you still linger on me. And here I am, with heart still sweltering from an insatiable feeling of missing you. The day hasn't passed, yet by now, something has compelled my hands to write you a letter. A letter of forlorn longing.

I am sorry that I have to go abruptly, leaving you early and not waiting for the year to change. Our Christmas rendezvous might be just transient, but, trust me, it will be forever engraved as the best Christmas I have in life. I can still hear you giggling when I was trying to remember some characters from Mahabharata. Or that time when I brought children magazine in lieu of a more proper crossword book. My heart is still blooming from that night when you hugged me, nestling in between hundreds eyes of the adherents of a sworn enemy that bears the same red marks upon them as the team I love. (You were part of them, too. But you know I love you too much to transcends this difference.)


My love,

You are dearer and dearer to me in each day. I loved you before, but it was not like this now. This all now is much more wonderful than before. And you wonderfully assured me that you will go with me, through joys and miseries, through laughs and tears. You see my flaws, my weaknesses, my errors. I am stripped and naked, devoid from any concealment, yet you opt to love me back as what I am. As who I am.


You are all together my faith, my hope, and my confidence; the security to my vulnerabilities, as the roof beam to a house in a stormy day. And I am prepared to love you with all your weaknesses. To be blind of those. To be blind forever, together. Is it a madness to believe for this to go forever? But didn't the wise use to say that love is insanity? If that is true, then I don't want to be sane.

I want to love you, even if every reason to love you has burned away.



Dear N,

As I am writing this to you, you know that I am half a thousand kilometers away from you. I have to stay here for a while. Wait for me, someday, I will go home again.

Meanwhile, if you miss me, just look at the west. I am there on the sunset. Look closely under the sun. As its last gleaming escapes from the edge of the day, there I am whispering you prayers and blessing from the faraway.

Sleep well, and live well.


With a lot of love,



A.


Wednesday, December 18, 2013

Kepada Tuan G

*) Kepada Tuan G.

Ada idiom dari bahasa Latin yang saya suka, tempus fugit, non autem memoria; waktu berlalu, tetapi ingatan tidak. Namun, terkutuklah saya dengan ingatan episodik dan ingatan semantik yang luar biasa tak berimbang. Saya mungkin ingat tentang X dan Y, atau tetek bengek hal-hal trivial lainnya. Bodohnya, saya malah lupa ulang tahun seseorang yang bisa dibilang adalah guru saya dalam menulis.

Saya mengenalnya semasa kuliah, pada semester-semester akhir. Saya lupa bagaimana mulanya kita bertemu. Mungkin di warung kopi Akang. Entahlah. Ah, betapa buruknya ingatan episodik saya. Namun yang saya ingat ia adalah orang yang menipu saya dengan penampilannya. Di luar dia seperti pria biasa yang tidak meninggalkan impresi apa-apa - setidaknya, sampai dia membuka mulutnya.

Di kepalanya terekam berderet fakta dan sejarah dan pengetahuan, begitu rapi. Suatu dunia yang tidak pernah saya hiraukan sebelumnya karena saya sibuk melihat yang di luar, di kejauhan sana, pada lain benua. Dia mengingatkan saya - meskipun tidak secara eksplisit - bahwa adalah bebal untuk tidak belajar tentang sesuatu yang lebih dekat dengan diri kita sendiri. Sesuatu yang tidak melulu global nan grandiose.

Namun bukan berarti dia tak acuh dengan apa yang ada di luar. Saya ingat kami mengobrol banyak, membandingkan antara pemikiran Marx, Rawls, dan anarkisme, pada bordes sebuah kereta ekonomi yang menuju ke Bali. Dan saya belajar banyak darinya, termasuk belajar untuk menulis. Sesungguhnya, dia lebih pintar daripada saya.

Saya ingat komentar Martin Heidegger pada sajak Der Ister karya Friedrich Hölderlin. Heidegger menulis: "spirit loves colony". Pada mulanya, "ruh" diberikan padanya suatu takdir. Takdir ini, bagaimanapun, masih tak kelihatan, masih ekuivokal. Dalam perjalanannya, ia mempelajari yang-lain, untuk pada akhirnya belajar mengenai dirinya sendiri. Dan begitulah teman saya ini menjadi salah seorang "ruh" liyan yang saya temui dalam sungai Danube kehidupan saya.

Padanya tidak saya ucapkan apa-apa, selain terima kasih, ucapan klise selamat ulang tahun, semoga panjang umur, dan sukses selalu. Juga, semoga cepat menemukan jodoh.

Apa lagi yang bisa saya berikan pada seorang Sisifus versi Pulau Sumatera yang sudah bahagia, selain doa untuk mengiringi ia "dumadi", menjadi sebaik-baiknya manusia menurut cita-citanya sendiri?


Tuesday, December 10, 2013

Argumentum ad Sanguineam

Pertanyaan tentang film horor adalah pertanyaan mengenai emosi: mengapa kita menikmati ketakutan, teror, rasa jijik, dan tragedi? Dahulu sekali, Aristoteles, dalam esainya tentang kritik drama, "Poetics", pernah mencoba menelisik tentang ketertarikan manusia akan rasa jijik dan rasa takut. Menurutnya, manusia tertarik untuk belajar, dan bahkan dari hal-hal jelek sekalipun, ada pelajaran yang diambil oleh manusia. Namun, dia pun juga alpa untuk menjelaskan mengapa manfaat kognitif yang diperoleh lebih besar dari pengalaman negatif yang dirasakan oleh manusia.

Kajian psikologis tentang film horor memberikan pandangan yang baru tentang daya tariknya. Daya tarik mengenai film horor itu sendiri sudah didokumentasikan dalam pelbagai tulisan dengan baik (Tannenbaum, 1980; Zillmann, 1984). Beberapa peneliti mengajukan jawaban dari segi biologi evolusioner, yaitu bahwa film horor merangsang manusia untuk mengukur level ancaman. Perasaan jijik dan takut akan kematian mengisyaratkan bahaya, dan memancing perilaku primal manusia untuk melindungi diri demi kelangsungan hidup (Pyszczynski, Greenberg, dan Solomon, 1998). Tanpa bermaksud seksis, secara evolusi, dahulu sekali laki-laki lah yang mengambil peran (secara fisikal) untuk melindungi keluarganya dari ancaman. Hal ini didukung pula oleh riset yang menunjukkan bahwa pencinta film horor adalah mayoritas pria berusia 15-45 tahun (Tamborini dan Stiff, 1987). Dan, sedikit banyak, menonton film horor bisa dianggap sebagai sebuah ritus kedewasaan, di mana siapa yang tahan menontonnya dianggap cukup berani oleh teman-temannya.

Penjelasan ini tentu saja tidak menjelaskan mengapa kita menikmati horor dalam media seni, dalam keadaan yang secara sadar kita ketahui relatif aman dari bahaya. Ada teori yang mengatakan bahwa pada waktu kita menonton film horor, sebenarnya kita sedang menahan rasa takut untuk menikmati sebuah "sense of euphoria", sebuah katarsis emosional di akhir filmnya. Salah seorang teman wanita saya yang menggemari film horor (bahkan gore) mengatakan selain karena dia menyukai anatomi tubuh manusia, film horor memberikan sensasi yang menggairahkan, traumatis, serta sebuah kelegaan emosional secara bersamaan; sebuah kanal untuk memproyeksikan emosinya kepada tokoh dalam film (emotional displacement). Menurutnya, film-film seperti ini menunjukkan pada dia bahwa hidupnya lebih beruntung daripada si korban dalam film. Kita lega bahwa selalu ada akhir yang bahagia, meskipun hidup - yang disimulasikan oleh film horor itu sendiri - penuh dengan hal-hal mengerikan. Akan tetapi, periset University of California, Berkeley, Eduardo Andrade, dan periset University of Florida, Joel B. Cohen, tidak sependapat. Dari hasil penelitian mereka, mereka menyatakan "novel approach to emotion reveals that people experience both negative and positive emotions simultaneously -- people may actually enjoy being scared, not just relief when the threat is removed. [...] the most pleasant moments of a particular event may also be the most fearful." Kita memang menikmati emosi negatif yang ditimbulkan oleh film horor. Dengan kata lain, kita semua menjadi masokis di hadapan layar perak yang sedang menampilkan adegan pembunuhan atau dikejar-kejar setan. Kita semua bahagia untuk menjadi tidak bahagia saat menonton film horor.


Tentang Gore

Secara umum, film horor membangun tensi pada penontonnya dengan 5 cara: misteri (misal, Fear in the Night, 1947, atau Silence of the Lamb, 1991), suspens (The Haunting, 1963; The Omen, 1976; Rosemary’s Baby, 1968), gore (The Evil Dead, 1982; Dawn of the Dead, 1978; Rumah Dara, 2010), teror (The Shining, 1980; Jaws, 1975), and shock/syok (Shock Corridor, 1963; Suspiria, 1977 - meskipun film Dario Argento ini juga mengandung unsur gore, misteri, dan suspens). Gore, atau sering juga dilabeli dengan splatter film dan torture porn, adalah jenis yang mengeksploitasi tentang darah, unsur kekerasan yang brutal, juga mutilasi organ tubuh yang ditampilkan secara grotesk dan serealistik mungkin. Jika ada beberapa orang yang memisahkan film gore dan slasher sebagai genre berbeda, maka saya lebih cenderung melihat slasher sebagai perpaduan antara film gore yang minimalis, dengan teror (thriller) di dalamnya sebagai landasan tensi film tersebut. Biasanya, film slasher memiliki tokoh antagonis seorang pembunuh berantai dan pilihan senjatanya tidak lebih dari sekedar alat pemotong biasa semacam pisau, kapak, pedang, atau gergaji mesin.
.
Karena natur emosinya yang sedemikian ekstrem, bisa dilihat bahwa penggemar gore adalah marjinal. Mereka sering kali teraglomerasi pada kelompok-kelompok kecil subkultur, bahkan sejak jaman dulu. Salah satu penyedia "hiburan" bagi kaum pencinta gore yang paling terkenal, Le Théâtre du Grand-Guignol, sudah beroperasi dari tahun 1897, di Jalan Chaptal, daerah Pigalle, Paris. Grand-Guignol, begitu ia seringkali disebut, merupakan suatu teater yang menyediakan pertunjukan drama dengan cerita yang brutal dan amoral. Konon katanya, beberapa penonton pingsan dan muntah pada saat pertunjukan. Dan bagi Grand-Guignol itu tandanya drama mereka sukses.



Pada era internet ini, penggemar gore menemukan suaka di berbagai forum internet. Misalnya pada image board 4chan, Charon Boat, Ogrish, LiveLeak, atau subforum Disturbing Picture pada Kaskus serta r/gore pada Reddit. Ada sebagian orang yang bahkan tertarik untuk melihat film pembunuhan aktual, seperti cuplikan video amatir konflik Sampit atau video pembunuh berantai dari Dnepropetrovsk, Ukraina, yang diberi judul "3 Guys 1 Hammer" oleh para /b/tards (saya tidak merekomendasikan Anda untuk mencari klip ini, karena apa yang Anda lihat adalah adegan pembunuhan yang nyata). Jarang sekali bagi gore untuk muncul dan populer di perfilman mainstream, meskipun Dawn of the Dead, The Evil Dead, Saw, Rumah Dara, Hostel, serta serial TV Spartacus: Blood and Sand masing-masing menikmati kesuksesan baik secara finansial maupun dalam resepsi para kritikus film. Beberapa film gore lainnya semacam The Human Centipede hanya menjadi film-film kategori B yang dicerca oleh kritikus dan gagal secara finansial.

Hal ini bisa dimaklumi, karena konvensi perfilman umum (jika memang ada) menahbiskan bahwa film gore itu unwatchable - tidak bisa ditonton. Namun kita semua yang menontonnya melanggarnya bak Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang. Dan ternyata saya menemukan bahwa film gore memang tidak monolitik. Ada banyak tema yang pernah dieksplorasi di dalamnya, bahkan pada film-film yang bukan arus utama dan dianggap cult. Cannibal Holocaust (1980), misalnya, mempopulerkan genre found footage/mockumentary yang lantas secara sukses ditiru oleh The Blair Witch Project dan Paranormal Activity. A l'interieur (2007) dalam subteksnya bercerita tentang obsesi dan perasaan kehilangan seorang ibu yang mengalami keguguran. Men Behind the Sun (1988), yang berdasarkan kisah nyata Perang Dunia II, bercerita tentang kejahatan perang dan kengerian eksperimentasi pada manusia oleh Unit 731. Yang lain, seperti film pendek Cutting Moments (1999), sangat mengganggu perasaan saya karena dengan subtilnya menggambarkan keadaan sebuah keluarga yang sangat disfungsional. The ABC of Death (2012) - proyek antologi 26 film pendek kolaborasi 26 sutradara yang masing-masing diberi satu huruf untuk dibuat film - juga memiliki beberapa film dengan premis yang menarik; misalnya bagian L is for Libido karya sutradara Indonesia, Timo Tjahjanto. Meski begitu, ada juga yang pure violence semacam Murder-Set-Pieces (2004) dan August Underground’s Mordum (2003) yang membuat saya menyesal telah mengunduh dan menontonnya.

Sebuah film gore, jika dia hendak muncul di arus utama seperti Saw, maka harus memberikan suatu sense of unrealism, sebuah sensasi yang menegaskan pada pemirsanya bahwa ia hanyalah film fiksi, dan bukannya snuff film. Ia harus menjadi simulakra yang tidak hendak merangsek perlahan-lahan menggantikan kenyataan. Manusia suka jika dia masih mempunyai perasaan bahwa dia masih memegang kendali atas situasi, termasuk kendali atas rasa takutnya sendiri. Maka ketika suatu gore menjadi terlalu nyata, dan ketika si protagonis menjadi terlalu helpless, orang akan berpikir jika hal tersebut bisa terjadi padanya dan tidak mungkin baginya untuk melawan keadaan. Film gore juga hendaknya memiliki proporsi - menjadi brutal namun tetap berseni. Sehingga, orang yang menontonnya tidak perlu merasa bersalah setelah menonton film yang alih-alih berseni, malah terlihat sadistik bak menonton video nyata buatan seorang psikopat. Itulah mengapa beberapa film gore berakhir menjadi film-film samar (obscure) yang ditonton oleh sebagian kecil orang saja.



Milan Kundera pernah menulis dalam bukunya, "Unbearable Lightness of Being" bahwa: 

"The aesthetic ideal of the categorical agreement with being is a world in which shit is denied and everyone acts as though it did not exist. This aesthetic ideal is called kitsch. … Kitsch is the absolute denial of shit, in both the literal and the figurative senses of the word; kitsch excludes everything from its purview which is essentially unacceptable in human existence".

Mungkin film gore adalah sebenar-benarnya perlawanan terhadap kitsch. Lewat wujudnya yang dianggap sebagai sampah estetika, kita sejenak tercengang dan melihat bahwa hidup (dan kematian) adalah sesuatu yang alih-alih sakral, merupakan sesuatu yang profan, yang fana. Kita terguncang, kita bergidik ngeri melihat momen-momen brutal dalam klimaksnya, tapi kita menikmatinya. Kita menikmati sebuah kehidupan yang dilecehkan sampai kepada titik absurditas.  Pada akhirnya, film gore adalah "[...] a perverse sublime." menurut seorang kritikus dan feminis, Cynthia Freeland. Stephen King, dalam apologinya untuk film Hostel, mengatakan "sure it makes you uncomfortable, but good art should make you uncomfortable." Akan tetapi, saya tidak begitu yakin apakah Cynthia Freeland dan Stephen King sudah pernah menonton August Underground’s Mordum atau belum.