Thursday, January 3, 2013

Balasan untuk Gita

Git,

Dahulu sekali, seorang filsuf Perancis bernama Sartre pernah berujar bahwa kita tidak memiliki sesuatu yang inheren dalam diri kita. Kita hanya kanvas kosong, void, menunggu untuk dilukis dengan warna apapun itu.  Di dunia jejaring sosial ini, melakukannya bahkan jauh lebih mudah. Pilihan warna yang tersedia ada beraneka rupa. Kita bisa menipu orang lain, membuat persona-persona yang palsu tetapi menarik, agar orang suka. Namun, aku bukan seperti itu.

Git,

Seperti nukilan film “The Stalker” dari Andrei Tarkovsky yang aku pasang di blog, “A Man Writes Because He Doubts, Because He Is Tormented.” Seperti itulah kira-kira raison d’ĂȘtre dari blogku. Jika aku sedang menulis – tentang filosofi, agama, maupun teori ekonomi, ataupun sekedar cerita – itu semata-mata karena aku tersiksa. Tersiksa karena ada ide yang butuh ditumpahkan, dan hanya ia yang aku punya. Blog ini tidak memiliki pretensi apa-apa. Pun bukan cita-cita untuk menjadi jenius bak Einstein (dan aku pun memang bukan orang yang jenius.)

Git,

Satirmu tentang aku yang memiliki cita-cita sebagai boyband sungguh lucu. Kupikir kau sedang berlagak seperti Albert Camus dan lantas menjejalkan ide-ide tentang absurdisme kepadaku. Bukan, aku tidak bermaksud mengatakan bahwa menjadi boyband itu aneh, tapi bagiku (yang tidak memiliki modal muka, suara, maupun kemampuan menari) tentu saja sangatlah aneh jika bergabung pada suatu boyband. Kau tentu sudah tahu, cita-citaku sebenarnya sederhana: menjadi seorang yang bekerja di bidang yang aku cintai, yang sayang sekali bukan berada di institusi ini.

Git,

Sebenarnya, jika ada yang lebih aku suka dari kritik maupun pujian, ia adalah kejujuran. Kritik hanyalah sampah jika ia hanya berniat untuk menghancurkan. Pujian juga hanyalah sampah jika orang yang memuji hanya menginginkan umpan balik berupa sebuah perhatian. Pujian dan kritik (seperti halnya permohonan maaf, kata Jacques Derrida) – haruslah absen dari perhitungan untung-rugi ala kalkulus ekonomi. Dan, sayangnya hal tersebut juga jarang ditemui.

Git,

#DukungAndreTetapJombloUntukIndonesiaYangLebihKritis sesungguhnya gerakan yang tidak perlu, seperti katamu. Ketidakadilan ada di mana-mana. Terlalu banyak, dan baunya terlalu menusuk hidung bahkan ketika mungkin aku nanti sedang tidur di samping istri yang terlelap nyenyak. Hal yang seperti itu tidak bisa membuatku bahagia. Kebahagiaan, kata Aristoteles, terletak pada menjalankan nilai-nilai dan karakter yang baik secara rasional. Memang demikian sulitnya, apalagi jika aku – seperti halnya kau – ada dalam posisi yang privileged di dalam masyarakat. Ada kecenderungan untuk diam dalam sikap apatis. Ada kecenderungan untuk menenggelamkan diri pada keberuntungan yang dipunyai, sampai lupa kepada mereka yang tidak beruntung.

Karena kau sepikiran denganku, dan karena kau temanku, dan karena kita sama-sama berada di haluan politik paling dibenci di negeri ini, dan karena kita sama-sama human beings, maka, jika di suatu saat nanti, aku lupa dengan manifestoku sendiri, tolong ingatkan aku untuk berada di jalan yang seharusnya lagi.

3 comments:

  1. membaca dialog tak langsung kalian berdua di blog kalian seperti membaca dialog antara Chairil Anwar dengan H.B Jassin.
    ada sedikit perasaan bangga karena kita dididik oleh sistem yang sama. tapi ternyata kalian bertingngkat-tingkat lebih tinggi wawasannya daripada saya ketika berumur serupa dengan kalian. mudah-mudahan ladang birokrasi yang akan kalian selami lebih dalam lagi nanti tidak merubah imajinasi idealisme dan keterbukaan pikiran yang kalian punya sekarang.

    cheers.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih telah mampir, Mas. Saya rasa menyejajarkan kami dengan Chairil Anwar dan H. B. Jassin terlalu berlebihan.

    Salam! :)

    ReplyDelete
  3. I like it when you mention "Ada kecenderungan untuk menenggelamkan diri pada keberuntungan yang dipunyai, sampai lupa kepada mereka yang tidak beruntung."
    ironic.. but that's what ppl mostly do.. even me, my self..
    thanks for reminding us :)

    ReplyDelete