"A man writes because he doubts, because he is tormented."

Wednesday, December 18, 2013

Kepada Tuan G

*) Kepada Tuan G.

Ada idiom dari bahasa Latin yang saya suka, tempus fugit, non autem memoria; waktu berlalu, tetapi ingatan tidak. Namun, terkutuklah saya dengan ingatan episodik dan ingatan semantik yang luar biasa tak berimbang. Saya mungkin ingat tentang X dan Y, atau tetek bengek hal-hal trivial lainnya. Bodohnya, saya malah lupa ulang tahun seseorang yang bisa dibilang adalah guru saya dalam menulis.

Saya mengenalnya semasa kuliah, pada semester-semester akhir. Saya lupa bagaimana mulanya kita bertemu. Mungkin di warung kopi Akang. Entahlah. Ah, betapa buruknya ingatan episodik saya. Namun yang saya ingat ia adalah orang yang menipu saya dengan penampilannya. Di luar dia seperti pria biasa yang tidak meninggalkan impresi apa-apa - setidaknya, sampai dia membuka mulutnya.

Di kepalanya terekam berderet fakta dan sejarah dan pengetahuan, begitu rapi. Suatu dunia yang tidak pernah saya hiraukan sebelumnya karena saya sibuk melihat yang di luar, di kejauhan sana, pada lain benua. Dia mengingatkan saya - meskipun tidak secara eksplisit - bahwa adalah bebal untuk tidak belajar tentang sesuatu yang lebih dekat dengan diri kita sendiri. Sesuatu yang tidak melulu global nan grandiose.

Namun bukan berarti dia tak acuh dengan apa yang ada di luar. Saya ingat kami mengobrol banyak, membandingkan antara pemikiran Marx, Rawls, dan anarkisme, pada bordes sebuah kereta ekonomi yang menuju ke Bali. Dan saya belajar banyak darinya, termasuk belajar untuk menulis. Sesungguhnya, dia lebih pintar daripada saya.

Saya ingat komentar Martin Heidegger pada sajak Der Ister karya Friedrich Hölderlin. Heidegger menulis: "spirit loves colony". Pada mulanya, "ruh" diberikan padanya suatu takdir. Takdir ini, bagaimanapun, masih tak kelihatan, masih ekuivokal. Dalam perjalanannya, ia mempelajari yang-lain, untuk pada akhirnya belajar mengenai dirinya sendiri. Dan begitulah teman saya ini menjadi salah seorang "ruh" liyan yang saya temui dalam sungai Danube kehidupan saya.

Padanya tidak saya ucapkan apa-apa, selain terima kasih, ucapan klise selamat ulang tahun, semoga panjang umur, dan sukses selalu. Juga, semoga cepat menemukan jodoh.

Apa lagi yang bisa saya berikan pada seorang Sisifus versi Pulau Sumatera yang sudah bahagia, selain doa untuk mengiringi ia "dumadi", menjadi sebaik-baiknya manusia menurut cita-citanya sendiri?


1 comments:

Dewa Cakrabuana said...

kalian cocok bgt dah jadi pasangan yg saling melengkapi... sayang nikah satu instansi ndak boleh

Post a Comment

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger