Tuesday, December 10, 2013

Argumentum ad Sanguineam

Pertanyaan tentang film horor adalah pertanyaan mengenai emosi: mengapa kita menikmati ketakutan, teror, rasa jijik, dan tragedi? Dahulu sekali, Aristoteles, dalam esainya tentang kritik drama, "Poetics", pernah mencoba menelisik tentang ketertarikan manusia akan rasa jijik dan rasa takut. Menurutnya, manusia tertarik untuk belajar, dan bahkan dari hal-hal jelek sekalipun, ada pelajaran yang diambil oleh manusia. Namun, dia pun juga alpa untuk menjelaskan mengapa manfaat kognitif yang diperoleh lebih besar dari pengalaman negatif yang dirasakan oleh manusia.

Kajian psikologis tentang film horor memberikan pandangan yang baru tentang daya tariknya. Daya tarik mengenai film horor itu sendiri sudah didokumentasikan dalam pelbagai tulisan dengan baik (Tannenbaum, 1980; Zillmann, 1984). Beberapa peneliti mengajukan jawaban dari segi biologi evolusioner, yaitu bahwa film horor merangsang manusia untuk mengukur level ancaman. Perasaan jijik dan takut akan kematian mengisyaratkan bahaya, dan memancing perilaku primal manusia untuk melindungi diri demi kelangsungan hidup (Pyszczynski, Greenberg, dan Solomon, 1998). Tanpa bermaksud seksis, secara evolusi, dahulu sekali laki-laki lah yang mengambil peran (secara fisikal) untuk melindungi keluarganya dari ancaman. Hal ini didukung pula oleh riset yang menunjukkan bahwa pencinta film horor adalah mayoritas pria berusia 15-45 tahun (Tamborini dan Stiff, 1987). Dan, sedikit banyak, menonton film horor bisa dianggap sebagai sebuah ritus kedewasaan, di mana siapa yang tahan menontonnya dianggap cukup berani oleh teman-temannya.

Penjelasan ini tentu saja tidak menjelaskan mengapa kita menikmati horor dalam media seni, dalam keadaan yang secara sadar kita ketahui relatif aman dari bahaya. Ada teori yang mengatakan bahwa pada waktu kita menonton film horor, sebenarnya kita sedang menahan rasa takut untuk menikmati sebuah "sense of euphoria", sebuah katarsis emosional di akhir filmnya. Salah seorang teman wanita saya yang menggemari film horor (bahkan gore) mengatakan selain karena dia menyukai anatomi tubuh manusia, film horor memberikan sensasi yang menggairahkan, traumatis, serta sebuah kelegaan emosional secara bersamaan; sebuah kanal untuk memproyeksikan emosinya kepada tokoh dalam film (emotional displacement). Menurutnya, film-film seperti ini menunjukkan pada dia bahwa hidupnya lebih beruntung daripada si korban dalam film. Kita lega bahwa selalu ada akhir yang bahagia, meskipun hidup - yang disimulasikan oleh film horor itu sendiri - penuh dengan hal-hal mengerikan. Akan tetapi, periset University of California, Berkeley, Eduardo Andrade, dan periset University of Florida, Joel B. Cohen, tidak sependapat. Dari hasil penelitian mereka, mereka menyatakan "novel approach to emotion reveals that people experience both negative and positive emotions simultaneously -- people may actually enjoy being scared, not just relief when the threat is removed. [...] the most pleasant moments of a particular event may also be the most fearful." Kita memang menikmati emosi negatif yang ditimbulkan oleh film horor. Dengan kata lain, kita semua menjadi masokis di hadapan layar perak yang sedang menampilkan adegan pembunuhan atau dikejar-kejar setan. Kita semua bahagia untuk menjadi tidak bahagia saat menonton film horor.


Tentang Gore

Secara umum, film horor membangun tensi pada penontonnya dengan 5 cara: misteri (misal, Fear in the Night, 1947, atau Silence of the Lamb, 1991), suspens (The Haunting, 1963; The Omen, 1976; Rosemary’s Baby, 1968), gore (The Evil Dead, 1982; Dawn of the Dead, 1978; Rumah Dara, 2010), teror (The Shining, 1980; Jaws, 1975), and shock/syok (Shock Corridor, 1963; Suspiria, 1977 - meskipun film Dario Argento ini juga mengandung unsur gore, misteri, dan suspens). Gore, atau sering juga dilabeli dengan splatter film dan torture porn, adalah jenis yang mengeksploitasi tentang darah, unsur kekerasan yang brutal, juga mutilasi organ tubuh yang ditampilkan secara grotesk dan serealistik mungkin. Jika ada beberapa orang yang memisahkan film gore dan slasher sebagai genre berbeda, maka saya lebih cenderung melihat slasher sebagai perpaduan antara film gore yang minimalis, dengan teror (thriller) di dalamnya sebagai landasan tensi film tersebut. Biasanya, film slasher memiliki tokoh antagonis seorang pembunuh berantai dan pilihan senjatanya tidak lebih dari sekedar alat pemotong biasa semacam pisau, kapak, pedang, atau gergaji mesin.
.
Karena natur emosinya yang sedemikian ekstrem, bisa dilihat bahwa penggemar gore adalah marjinal. Mereka sering kali teraglomerasi pada kelompok-kelompok kecil subkultur, bahkan sejak jaman dulu. Salah satu penyedia "hiburan" bagi kaum pencinta gore yang paling terkenal, Le Théâtre du Grand-Guignol, sudah beroperasi dari tahun 1897, di Jalan Chaptal, daerah Pigalle, Paris. Grand-Guignol, begitu ia seringkali disebut, merupakan suatu teater yang menyediakan pertunjukan drama dengan cerita yang brutal dan amoral. Konon katanya, beberapa penonton pingsan dan muntah pada saat pertunjukan. Dan bagi Grand-Guignol itu tandanya drama mereka sukses.



Pada era internet ini, penggemar gore menemukan suaka di berbagai forum internet. Misalnya pada image board 4chan, Charon Boat, Ogrish, LiveLeak, atau subforum Disturbing Picture pada Kaskus serta r/gore pada Reddit. Ada sebagian orang yang bahkan tertarik untuk melihat film pembunuhan aktual, seperti cuplikan video amatir konflik Sampit atau video pembunuh berantai dari Dnepropetrovsk, Ukraina, yang diberi judul "3 Guys 1 Hammer" oleh para /b/tards (saya tidak merekomendasikan Anda untuk mencari klip ini, karena apa yang Anda lihat adalah adegan pembunuhan yang nyata). Jarang sekali bagi gore untuk muncul dan populer di perfilman mainstream, meskipun Dawn of the Dead, The Evil Dead, Saw, Rumah Dara, Hostel, serta serial TV Spartacus: Blood and Sand masing-masing menikmati kesuksesan baik secara finansial maupun dalam resepsi para kritikus film. Beberapa film gore lainnya semacam The Human Centipede hanya menjadi film-film kategori B yang dicerca oleh kritikus dan gagal secara finansial.

Hal ini bisa dimaklumi, karena konvensi perfilman umum (jika memang ada) menahbiskan bahwa film gore itu unwatchable - tidak bisa ditonton. Namun kita semua yang menontonnya melanggarnya bak Adam dan Hawa yang memakan buah terlarang. Dan ternyata saya menemukan bahwa film gore memang tidak monolitik. Ada banyak tema yang pernah dieksplorasi di dalamnya, bahkan pada film-film yang bukan arus utama dan dianggap cult. Cannibal Holocaust (1980), misalnya, mempopulerkan genre found footage/mockumentary yang lantas secara sukses ditiru oleh The Blair Witch Project dan Paranormal Activity. A l'interieur (2007) dalam subteksnya bercerita tentang obsesi dan perasaan kehilangan seorang ibu yang mengalami keguguran. Men Behind the Sun (1988), yang berdasarkan kisah nyata Perang Dunia II, bercerita tentang kejahatan perang dan kengerian eksperimentasi pada manusia oleh Unit 731. Yang lain, seperti film pendek Cutting Moments (1999), sangat mengganggu perasaan saya karena dengan subtilnya menggambarkan keadaan sebuah keluarga yang sangat disfungsional. The ABC of Death (2012) - proyek antologi 26 film pendek kolaborasi 26 sutradara yang masing-masing diberi satu huruf untuk dibuat film - juga memiliki beberapa film dengan premis yang menarik; misalnya bagian L is for Libido karya sutradara Indonesia, Timo Tjahjanto. Meski begitu, ada juga yang pure violence semacam Murder-Set-Pieces (2004) dan August Underground’s Mordum (2003) yang membuat saya menyesal telah mengunduh dan menontonnya.

Sebuah film gore, jika dia hendak muncul di arus utama seperti Saw, maka harus memberikan suatu sense of unrealism, sebuah sensasi yang menegaskan pada pemirsanya bahwa ia hanyalah film fiksi, dan bukannya snuff film. Ia harus menjadi simulakra yang tidak hendak merangsek perlahan-lahan menggantikan kenyataan. Manusia suka jika dia masih mempunyai perasaan bahwa dia masih memegang kendali atas situasi, termasuk kendali atas rasa takutnya sendiri. Maka ketika suatu gore menjadi terlalu nyata, dan ketika si protagonis menjadi terlalu helpless, orang akan berpikir jika hal tersebut bisa terjadi padanya dan tidak mungkin baginya untuk melawan keadaan. Film gore juga hendaknya memiliki proporsi - menjadi brutal namun tetap berseni. Sehingga, orang yang menontonnya tidak perlu merasa bersalah setelah menonton film yang alih-alih berseni, malah terlihat sadistik bak menonton video nyata buatan seorang psikopat. Itulah mengapa beberapa film gore berakhir menjadi film-film samar (obscure) yang ditonton oleh sebagian kecil orang saja.



Milan Kundera pernah menulis dalam bukunya, "Unbearable Lightness of Being" bahwa: 

"The aesthetic ideal of the categorical agreement with being is a world in which shit is denied and everyone acts as though it did not exist. This aesthetic ideal is called kitsch. … Kitsch is the absolute denial of shit, in both the literal and the figurative senses of the word; kitsch excludes everything from its purview which is essentially unacceptable in human existence".

Mungkin film gore adalah sebenar-benarnya perlawanan terhadap kitsch. Lewat wujudnya yang dianggap sebagai sampah estetika, kita sejenak tercengang dan melihat bahwa hidup (dan kematian) adalah sesuatu yang alih-alih sakral, merupakan sesuatu yang profan, yang fana. Kita terguncang, kita bergidik ngeri melihat momen-momen brutal dalam klimaksnya, tapi kita menikmatinya. Kita menikmati sebuah kehidupan yang dilecehkan sampai kepada titik absurditas.  Pada akhirnya, film gore adalah "[...] a perverse sublime." menurut seorang kritikus dan feminis, Cynthia Freeland. Stephen King, dalam apologinya untuk film Hostel, mengatakan "sure it makes you uncomfortable, but good art should make you uncomfortable." Akan tetapi, saya tidak begitu yakin apakah Cynthia Freeland dan Stephen King sudah pernah menonton August Underground’s Mordum atau belum.

No comments:

Post a Comment